S E L A M A T D A T A N G

Selasa, 29 Oktober 2013

TUGAS MID KAJIAN PROSA FIKSI#

TEKS DRAMA:
PERTEMUAN DUA HATI
Karya: Nh. Dini
Para pelaku:
Bu Suci    Pak Darmo   
Waskito    Sinta
Raharjo     Ratna
Marno    Susi
Rini    Aslan
Denok    Dedy
Wahyudi    Adry
Kepala Sekolah
Latar : Ruang kelas
BABAK I
(Pada suatu pagi, di sebuah kelas, murid-murid duduk dan menanti kedatangan seorang guru baru. Kepala Sekolah dan Bu Suci masuk secara berdampingan)
Kepala Sekolah    : Ini Ibu Suci. Berusahalah tenang, jangan nakal. Tunjukkan kepada Bu Suci bahwa kalian adalah murid-murid yang patuh.
(Menatap Ibu Suci dan mempersilakan beliau untuk memperkenalkan diri)
Bu Suci    : (Menebarkan pandangan sekilas ke arah murid-murid)
        Selamat pagi, Anak-anak.
Murid-murid    : (Menyahut dengan serempak) Selamat pagi, Bu!
Bu Suci    : Seperti yang telah dikatakan Bapak Kepala Sekolah, ibu akan menggantikan guru kalian yang sebelumnya pernah mengajar. Panggil saja ibu, Ibu Suci.
(Kepala Sekolah berpamitan keluar ruang. Bu Suci mengantarkan Kepala Sekolah sampai ke daun pintu)
Bu Suci    : (Kembali ke ruang kelas. Berdiri di muka meja sambil menatap anak-anak didiknya). Sebelumnya, Ibu mengajar di sebuah kota kecil selama sepuluh tahun.
(Suasana kelas menegang)
Bu Suci    : Pasti beberapa di antara kalian sudah mengetahuinya.
Sinta    : (Mengacungkan tangan sambil bartanya dengan segera) Di mana itu, Bu Suci ?
Bu Suci    : Di Purwodadi. Kalian pasti sudah tahu, bukan ?
Ratna    : Nenek saya tinggal di sana, Bu.
(Suasana kelas yang semula tegang menjadi sedikit tercairkan dengan percakapan yang terjalin akrab antara Ibu Suci dan murid-murid )
Bu Suci    : (Duduk sambil membuka map absen) Wah, kamu sungguh beruntung. Nah, ibu ingin tahu siapa Ketua Kelas di sini?
Raharjo    : (Mengacungkan tangan dan menjawab dengan lantang) Saya, Bu!
Bu Suci    : Siapa nama kamu?
Raharjo    : Raharjo, Bu.
Bu Suci    : Baiklah, dengan begini ibu tahu siapa pemimpin dan penanggung jawab kelas ini. Selanjutnya,  ibu akan memanggil nama kaliian satu per satu.
(Ibu Suci memanggil satu per satu nama murid dalam daftar absen)
BABAK II
(Keesokan harinya, salah seorang murid bernama Waskito tidak masuk kelas selama beberapa hari tanpa alasan atau pemberitahuan yang jelas. Ini tentu saja mengundang tanya bagi Bu Suci sebagai guru baru )
Bu Suci    : (Duduk sambil menatap map absen) Ada yang tahu di mana rumah Waskito ?
(Kelas hening. Tak ada seorang murid pun yang menyahut)
Bu Suci    : Ya? Siapa yang tahu? Rumahnya jauh atau dekat?
(Kelas tetap sunyi. Tidak ada jawaban. Beberapa orang murid menunduk mencoba menghindari tatapan mata Bu Suci yang menebar ke seluruh ruang kelas)
Bu Suci    : Kalau ada yang tahu, cobalah menengok ke sana. Jangan-jangan dia sakit.
Bu Suci    : (Menunduk sambil menatap map absen)
(Terdengar bisik-bisik para murid)
Bu Suci    : Raharjo! Pergilah ke rumah Waksito sepulang dari sekolah nanti. Atau sore sambil jalan-jalan. Tanyakan mengapa dia lama tidak masuk.
(Raharjo diam tak menjawab. Sebentar-sebentar kepalanya menunduk dan mendongak. Ia menghindari tatapan mata Bu Suci )
Bu Suci    : (Mendongak sambil menatap Raharjo yang kelimpungan) Ya Raharjo?
(Raharjo kebingungan. Ia menatap wajah teman sebangkunya. Mencoba mencari dukungan)
Bu Suci    : Mengapa tidak menjawab Raharjo? Kamu tidak tahu rumah Waskito?
Raharjo    : Tahu, Bu.
Bu Suci    : Lalu? Terlalu jauh buat kamu?
Raharjo    : Oh tidak, Bu. Saya selalu melaluinya kalau berangkat dan pulang.
Bu Suci    : (Menatap Raharjo dengan pandangan heran) Mengapa kamu tidak singgah selama ini? Apakah kamu tidak ingin mengetahui mengapa dia tidak masuk?
(Raharjo menggerakkan badan ke kanan, ke kiri sambil menunduk)
Bu Suci    : (Menatap seluruh murid di kelas) Siapa lagi yang mengetahui rumah Waskito?
(Satu per satu para murid mengacungkan telunjuknya sambil tetap menundukkan kepala mereka)
Bu Suci    : Mengapa kalian tidak mau menengoknya? Marno! Coba tolonglah Ibu! Beritahu mengapa kamu tidak mau menengok Waskito?
(Marno ragu-ragu untuk menjawab. Ia pun menatap Raharjo yang duduk di sampingnya)
Marno    : (Dengan suara rendah namun jelas) Takut, Bu.
Bu Suci    : Mengapa? Raharjo! Ganti kamu yang menjelaskan! Mengapa kalian takut pergi ke rumah Waskito?
Raharjo    : Marno saja, Bu.
Bu Suci    : Kamu yangg menjadi Ketua Kelas di sini. Ibu kira, kamu seharusnya lebih tahu apa yang terjadi dalam kelasmu. Ibu orang baru di sini, bukan? Kamulah yang memberi penjelasan apa yang ibu perlukan mengenai kelas ini. 
Raharjo    : (Menatap Ibu Suci dengan ragu-ragu) Rumahnya besar, Bu. Selalu ada anjing yang menggonggong di halamannya.
Aslan    : Dia anak orang kaya, Bu.
(Kelas mendadak berubah senyap kembali)
Bu Suci    : Hanya itu? Apalagi lain-lainnya?
(Suasana kelas menjadi tegang)
Bu Suci    : Tentunya kalian sudah mengetahui bahwa orang kaya tidak perlu ditakuti. Kalau takut pada anjing lain persoalannya.
Ratna    : (Tiba-tiba menyelutuk) Ya betul, Bu! Kami malahan senang!
Dedy    : Ya betul, Bu! Kelas tenang kalau dia tidak ada.
Bu Suci    : O, ya? Mengapa? Karena Waskito suka bergurau? Membikin keributan?
Ratna    : Oh, tidak! Bukan bergurau! Kalau itu, kami juga suka!
Susi    : Dia jahat! Jahat sekali, Bu!
Bu Suci    : Ah, masa! Tidak ada anak-anak yang jahat. Kalian masih tergolong tingkatan umur yang dapat dididik. Memang kalian bukan kanak-kanak lagi! Tetapi kalian sudah bisa diajak berpikir teratur, ditunjukkan mana yang baik dan mana yang buruk. Jadi, Bu Suci beritahu sejelas-jelasnya: tidak ada anak jahat. Kalaupun seandainya terjadi kenakalan yang keterlaluan, anak itu mempunyai kelainan. Tapi dia nakal. Bukan jahat!
Susi    : Waskito jahat atau nakal, saya tidak tahu, Bu! Tapi dia mempunyai kelainan. Suka memukul. Menyakiti siapa saja!
Bu Suci    : Siapa yang pernah dipukul? Atau disakiti?
(Tangan-tangan terunjuk ke atas)
Bu suci    : Bagaimana terjadinya? Kalian bertengkar? Bergelut? Berkelahi?
Aslan    : Tidak, Bu!
Dedy    : Kalau saya, memang bertengkar! Lalu dipukul!
Raharjo    : Kebanyakan kali tanpa ada yang dipersoalkan, Bu. Tiba-tiba saja dia memecut atau memukul. Yang paling senang menjegal. Sesudah iitu dia pura-pura tidak tahu.
Bu Suci    : Bagaimana dia memukul? Sampai berdarah? Menurut peraturan, kalau ada luka berdarah. Harus lapor kepada kepala sekolah.
Aslan    : Satu kali, dahi saya dipukul. Sorenya, bengkak sebesar telur.
Bu Suci    : Apa kata orang tuamu?
Aslan    : Saya bilang jatuh, Bu.
Bu Suci    : Mengapa Berdusta?
Aslan    : Saya takut dimarahi karena bertengkar di sekolah, Bu.
Bu Suci    : Siapa lagi yang pernah berurusan dengan Waskito?
Adry    : Saya dilempari batu-batu besar, Bu. Untung tidak kena. Tetapi lampu sepeda saya pecah. Saya kena marah di rumah.
Bu Suci    : Kamu katakan bahwa Waskito yang melakukannya?
Adry    : Saya bilang tabrakan dengan teman, Bu.
Bu Suci    : (Dengan nada merendah) Mengapa?
Adry    : (Diam sejenak) Saya tidak suka bapak bikin keributan ke sekolah, Bu.
(Kelas menjdi sepi)
Ratna    : (Menyelutuk) Lebih baik dia tidak usah masuk saja, Bu!
(Murid-murid lain pun secara serempak ikut menyahut) Ya, mudah-mudahan dia pindah!
Adry    : Untung kalau begitu! Tanpa dikeluarkan, dia keluar sendiri.
Raharjo    : Dulu dia pernah dikeluarkan sekolah lain, Bu.
Bu Suci    : Dari sekolah mana?
Raharjo    : Sekolah swasta, Bu.
Aslan    : Bukan! SD negeri juga, tapi di kota.
Ratna    : Sekolah swasta, betul!
Raharjo    : Memang SD swasta. Neneknya yang memasukkan dia di sana. Tetapi karena sering membolos, lalu dikeluarkan.
Bu Suci    : Waskito tinggal bersama neneknya?
Susi    : Dulu, Bu. Sekarang sudah diambil kembali oleh Bapak dan Ibunya.
Bu Suci    : Diambil kembali?
Raharjo    : Ya, Bu.
Bu Suci    : Apakah orang tuanya pernah pindah ke kota lain atau bagaimana?
Raharjo    : Tidak tahu, Bu!
Bu Suci    : Dari siapa kaliian mengetahui semua ini?
(Raharjo tidak menjawab. Murid-murid lain juga diam)
Bu suci    : (Bu Suci memandang lekat murid-muridnya) Kamu pernah melihat dia di rumah neneknya? Lalu pindah ke tempat orang tuanya?
Raharjo    : Tidak, Bu. Saya belum kenal ketika dia tinggal bersama neneknya.
Bu Suci    : Jadi, dari mana kamu tahu semua itu?
Raharjo    : (Bungkam sesaat sambil menatap Bu Suci) Waskito sendiri yang mengatakannya. Setiap kambuh dia menjadi bengis, selalu berteriak-teriak. Macam-macam yang dikatakannya. Yang sering diulang-ulang: seperti barang. Nih, begini, dilempar ke sana kemari. Dititipkan ! Apa itu! Persetan! Aku tidak perlu kalian semua!
Dedy    : Kemudian menyebut kakeknya, neneknya, orang tuanya. Semua dicaci maki! Anehnya, kalau dia kambuh begitu, yang menjadi sasaran pertama selalu Raharjo, Marno, Denok.
(Rini segera menyambung ucapan temannya sambil mengarahkan pandang kepada teman sekelasnya)
Rini    : Aku juga! Selalu kalau aku berada jauh pun, seolah-olah dia sengaja mencari aku untuk kena sabetannya.
Marno    : Saya tidak tahu apa kesalahan saya.
Raharjo    : Saya juga tidak tahu.
(Denok yang duduk di belakang, menyelutuk perlahan)
Denok    : Apalagi kami anak perempuan! Kami tidak pernah main denga dia!
(Selama beberapa saat, para murid berbincang ramai mengenai Waskito. Suasana kelas sedikit riuh. Bu Suci mendengarkan pengaduan para murid. Bel istirahat berbunyi selang waktu kemudian)
BABAK III
(Waskito kembali masuk sekolah. Ini merupakan kali pertama Bu Suci bertemu dengan Waskito. Pemuda berkulit cokelat bersih ini duduk di deretan bangku ketiga dari kiri, di tengah. Hari ini, Bu Suci menyuruh murid-murid berpindah tempat. Tak terkecuali Waskito)
Bu Suci    : (Menunjuk ke arah bangku kedua sebelah kanan) Waskito, coba kamu pindah ke sebelah sana!
Waskito    : Tidak, Bu! Saya di sini saja!
Bu Suci    : (Menahan diri) Mengapa?
        (Mengalihkan pandangan ke arah murid lain) Susi ke bangku sana, di belakang! Di samping Denok!
        (Mengarahkan pandangan kembali ke Waskito) Kalau kamu tidak mau pindah, coba kamu katakan apa sebabnya! Pasti ada alasanmu, bukan?
        (Kembali mengacuhkan Waskito dan mengatur duduk murid-murid lain) Baiklah. Ibu kira, ibu tahu mengapa kamu tidak mau pindah!
(Proses belajar mengajar pun berlalu seperti biasa. Lonceng isrirahat berbunyi)
Bu Suci    : Raharjo, buku bacaan akan dipergunakan kelas lain setelah istirahat. Kamu cepat mengembalikannya ke lemari kantor. Ya! Waskito! Tolong bawakan buku-buku tugas! Ibu tidak dapat membawa semuanya sendiri.
(Bu Suci keluar menenteng tas menuju kantor guru) 
BABAK IV:
(Waskito mulai menuju ke arah perbaikan. Ia tidak lagi mengganggu teman-temannya, pendek kata, ia menjadi murid yang paling rajin. Akan tetapi, kali ini Waskito kambuh lagi. Waktu istirahat dimulai)
Aslan    : (Berlari terengah-engah dan kehabisan nafas) Bu Suci, Waskito kambuh, Bu! Dia mengamuk! Dia mau membakar kelas!
(Guru-guru lelaki termasuk Bu Suci berlarian menuju ruang kelas)
Bu Suci    : (Ketinggalan dan kehabisan nafas) Mengapa begitu? Apa yang menyebabkan dia marah? Kalian bertengkar?
Aslan    : Tidak, Bu! Dia tidak mau keluar istirahat. Wahyudi dan beberapa kawan mau menemaninya, juga tidak keluar. Tadinya saya ikit-ikut, tapi hanya sebentar terus keluar. Tidak tahu lagi apa yyang terjadi! Saya kembali dari kamar kecil, dari jauh terdengar Waskito berteriak-teriak seperti dulu! Betul sama, Bu! Katanya: aku benci! Aku benci kalian semua! Saya masuk kelas, Waskito menodongkan gunting! Entah dari mana! Begitu tiba-tiba, saya berbalik, lari ke kantor!
(Bu Suci berlari menuju kelas, menerobos kerumunan murid-murid yang menonton di pintu. Di sana telah ada Kepala Sekolah. Ia maju membentak dan menghardik para penonton. Waskito berdiri di muka kelas, membelakangi deretan bangku-bangku. Tangannya menggenggam gunting yang tak terbuka)
Kepala Sekolah    : (Suara agak menggelegar) Berikan gunting itu Waskito!
(Waskito terlihat terkejut dengan nada suara kepala sekolah yang sedikit kasar)
Bu Suci    : (Dengan tiga atau empat langkah ke depan merebut gunting tersebut dari tangan Waskito) Ah, kamu ini ada-ada saja! Dari mana kamu dapatkan gunting ini! (Merangkulkan lengan ke arah pundak Waskito sambil mengajaknya keluar dari kelas)
(Peristiwa itu mulai melunturkan kepercayaan pihak sekolah. Bu Suci dengan teguh hati tetap mempertahankan Waskito untuk tudak dikeluarkan dari sekolah. Rapat pun digelar guna membahas peristiwa Waskito ini)
Bu Suci    : Berilah saya waktu sebulan lagi.
Pak darmo    : (Nada jengkel) Sebulan! Sementara itu, sebelum waktu satu bulan habis, barangkali besok atau tiga hari lagi dia membakar kelas Anda! Membakar sekolah kita!
Bu Suci    : Pastilah telah terjadi di rumah, diantara keluarganya atau di kelas yang membuatnya geram. Kemarahannya dilampiaskan kepada siapa kalau tidak kepada kita, lingkungan terdekatnya?
Pak Darmo    : Kalau setiap kali dia marah, kita yang menanggung akibatnya, kita yang menjadi korbannya, itu tidak adil! Tidak termasuk dalam program maupun kurikulum! Tugas kita mengajar!
Bu Suci    : (Cepat menyela) Berbicara mengenai tugas, saya kira tugas kita juga termasuk menolomg murid-murid sukar. Saya mulai merasa mengenal dan mengerti dia. Barangkali dia juga demikian terhadap saya. Tetapi kami masih memerlukan waktu.
        (Menoleh ke arah Kepala Sekolah dengan nada rendah hati) Satu bulan, Pak! Saya mohon diberi satu bulan lagi! Kalau dalam jangka waktu satu bulan keadaan Waskito tetap tidak membaik, terserah keputusan Anda dan juga Bapak Kepala Sekolah. Kalau boleh saya mengingatkan, bukan tugas kita mengucilkan Waskito.
(Semua terdiam seolah menyetujui apa yang dikatakan Bu Suci)

(Bu Suci meninggalkan rapat menuju ke kelas)
Bu suci    : Mulai hari ini saya minta Waskito maju, menempati bangku Susi. Susi pindah ke belakang. Mulai hari ini ibu yang akan bertanggung jawab atas apa saja yang kamu lakukan di kelas. Kalau kamu berbuat keji yang dapat membahayakan kawan-kawanmu, gurumu atau dirimu sendiri, Bu Suci akan dikeluarkan! Kamu juga! Kamu akan diberikan masa percobaan selama sebulan untuk memperbaiki diri.
(Proses belajar pun berjalan seolah tidak terjadi apa-apa sebelumnya sampai bel tanda pelajaran berakhir berbunyi)
BABAK V
(Waskito sedikit demi sedikit mulai dapat mengendalikan dirinya. Prestasi ‘kecil-kecilan’ Waskito tidak sedikit pun luput dari perhatian Bu Suci. Hari itu, bel sudah lama dibunyikan. Bu Suci masih berada di dalam kantor. Agak lama kemudian, Bu Suci berjalan menuju ke kelas. Di tengah jalan, Wahyudi mencegatnya)
Wahyudi    : Waskito, Bu!
Bu Suci    : (Terkejut dan mempercepat langkah) Mengamuk lagi dia? (Memandang Wahyudi)
Wahyudi    : (Tertawa terkikih) Tidak, Bu. Tanaman kami dirusak.
Bu Suci    : (Menghela nafas) Tanaman mana? Pot-pot di sudut kelas? Di samping pintu?
Wahyudi    : Bukan! Tanaman percobaan yang tadi pagi kita letakkan di jendela supaya kena panas!
Bu Suci    : Dicabuti? Semua?
Wahyudi    : Hanya kepunyaan beberapa orang, dibanting kalengnya!
(Sesampai di kelas, kaleng-kaleng bekas penyok bekas sepatu dan tindihan berat badan! Tanah hitam campur coklat berserakan. Tunas-tunas patah)
Bu Suci     : (Mengedarkan pandang ke seluruh kelas) Di mana Waskito?
Aslan    : Keluar, Bu.
Wahyudi    : Saya cari, Bu?
Bu Suci    : Tidak! Jangan! Biarkan dulu! Dia harus datang atas kemauannya sendiri. Kita tunggu sebentar.
(Suasana kelas tenang tetapi tegang. Wahyudi dan Susi menbersihkan tebaran tanah dan kaleng)
Bu Suci    : Jangan! Sementara ini biar kotor, tidak apa-apa sebentar saja.
(Kedua anak itu mengawasi Bu suci dengan keheranan)
Bu suci    : Nanti dibersihkan bersama-sama.
(Pelajaran terus berlangsung. Waskito tidak muncul sampai lonceng istirahat dibunyikan. Bu Suci melangkah keluar dan mendapati Waskito duduk di pinggir selokan)
Bu Suci    : (Melangkah mendekati Waskito) Sedang apa kamu di sini?
(Waskito diam tidak menjawab. Matanya diarahkan ke depan tanpa memandang Bu Suci)
Bu Suci    : Sejak tadi seisi kelas mencarimu. Kami semua khawatir! Jangan-jangan kamu mengamuk di tempat lain! Malahan ada yang mengatakan barangkali kamu tidak akan mau masuk sekolah lagi, setiap hari ke Banjirkanal memancing!
Bu Suci    : (Menyentuh tangan Waskito dan mengajaknya untuk berdiri. Bergandengan menuju kantor. Kemudian duduk berdampingan di atas kursi) Apakah kau sadar kau telah melakukan pembunuhan?
(Waskito membelalakan matanya sambil cemberut. Ia ingin membantah namun suaranya seolah tertahan)
Bu Suci    : Ya betul! Pembunuhan! Kamu membanting dan menginjak tanaman yang tidak berdosa. Bayi-bayi tanaman itulah yang kau bunuh. Bu Suci tidak mengira kau bisa sekejam itu. Coba, kalau kamu dewasa, apakah kau kira akan menjadi manusia yang baik? Apakah kamu akan dapat hidup bersama-sama orang lain kalau tetap tidak mampu mengendalikan kemarahanmu?
(Waskito tidak menunduk. Pandangannya menembus jendela kaca. Bu Suci tidak melepaskan genggaman tangannya)
Bu Suci    : Ceritaka apa yang terjadi?
(Waskito tetap bungkam)
Bu Suci    : (Melepaskan genggamannya dan memegang dagu Waskito, mengarahkan matanya supaya menatap dirinya) Aku ingin mendengar sebabnya mengapa kamu berbuat semacam itu. Anak-anak lain sudah bercerita, tetapi mereka bukan kamu. Pikiran mereka lain dari pikiranmu.
Waskito    : (Menatap Bu Suci sebentar kemudian menundukkan wajahnya) Mereka mengejek saya.
Bu Suci    : Kalau memang betul tanamanmu kurang subur, jangan malu mengakui kenyataan. Bagaimana yang sesungguhnya? Subur atau tidak?
(Waskito tidak menjawab dan tidak memandang ke wajah Bu Suci)
Bu Suci    : Kutunggu jawabanmu, bagaimana menurutmu apakah tanamanmu subur atau tidak?
(Waskito tetap terdiam. Badannya tidak tenang. Pantatnya beringsut. Kakinya usil di bawah kursi)
Bu Suci    : Tidak ada orang yang baik atau pandai atau cekatan dalam segalanya. Kamu terampil dalam hal pertukangan, otakmu cerdas. Bukankah itu sudah sangat mencukupi? Kalau kamu ingin balas dendam pada teman-teman tidak dengan menginjak-injak tanamanmu. Berprestasilah. Tekuni pelajaranmu. Kalau kamu lemah dalam menumbuhkan biji-bijian, carilah sebab-sebabnya. Jangan berputus asa. Memalukan sekali.
(Waskito menoleh, menatap wajah Bu Suci)
Bu Suci    : Kamu berhasil mendapat pujian dari para guru dan kepala sekolah. Pertahankanlah ini! Jangan selalu membuat seisi kelas ketakutan semacam tadi.
        (Bu Suci bangkit dari duduknya) Ayo, kembali ke kelas! Kamu meninggalkan kelas dalam keadaan berantakan. Namun tetap saja teman-temanmu ingin membereskan itu untukmu. Tapi kularang mereka menyapu. Aku yakin, sebegitu kamu akan membersihkan lantai, pasti ada yang menolongmu tanpa kusuruh.
(Waskito bangkit dari duduknya. Bu Suci dan Waskito berjalan beriringan menuju ke kelas. Membiarkan hati mereka berdua bertautan satu sama lain)   
A.    PENGERTIAN DRAMA
Drama adalah satu bentuk karya sastra yang memiliki bagian untuk diperankan oleh actor ataupun aktris. Kosakata ini berasal dari Bahasa Yunani yang berarti "aksi", "perbuatan". Drama biasa diwujudkan dengan berbagai media: di atas panggung, film, dan atau televisi. Drama juga terkadang dikombinasikan dengan musik dan tarian, sebagaimana sebuah opera. Di Indonesia, pertunjukan sejenis drama mempunyai istilah yang bermacam-macam. Seperti: Wayang orang, ketoprak, ludruk (di Jawa Tengah dan Jawa Timur), lenong (Betawi), randai (Minang), reog (Jawa Barat), rangda (Bali) dan sebagainya. Sebuah karya sastra yang bercerita terbagi atas dua; tutur dan tulis. Jika cerita-cerita prosa seperti legenda dan dongeng lahir dari sastra tutur kemudian dituliskan. Drama adalah kebalikannya, yakni dituliskan dahulu, kemudian dituturkan/diperankan. Drama dipertontonkan guna mencapai estetik implementasi. Artinya, ia harus diawali dari tulisan, kemudian diceritakan melalui penggunaan medium seni yang disebut dengan panggung.Cerita drama yang sudah dipanggungkan disebut dengan teater. Oleh karena itu, pembicaraan drama kerap dikaitkan dengan teater. Tak ayal, terkadang orang menyebut drama sebagai teater dan sebaliknya, teater dikatakan dengan drama. Sejatinya, kedua hal ini tetap berbeda. Drama adalah naskah yang akan dilakonkan. Secara sederhana, drama dapat dibagi menjadi beberapa bentuk. Pembagian secara umum di bawah ini ditinjau dari cerita dan gaya berceritanya.
    Tragedi, yaitu drama yang melukiskan kisah duka atau kejadian pahit, sedih yang amat dalam. Tujuan naskah ini biasanya agar penonton dapat memandang hidup dan kehidupan secara optimis.
    Komedi, yaitu drama ringan, biasanya bercerita tentang yang lucu-lucu.Tujuannya lebih kepada menghibur penonton.
    Melodrama (tragikomedi), yaitu drama yang berupa gabungan dari tragedi dan komedi. Dalam naskah ini ada cerita serius, ada juga hanya cerita ringan dan lucu.
    Dagelan (farce), yaitu jenis drama murahan atau dikatakan juga dengan komedi picisan. Biasanya naskah ini diiringi musik riang.
    Opera atau operet, yaitu dialog diiringi dengan musik yang di dalamnya juga dimasukkan nyanyian/lagu.
     Drama adalah bentuk karya sastra yang berusaha mengungkapkan perihal kehidupan manusia melalui gerak dan percakapan di atas panggung.
    Drama memiliki beberapa ciri, diantaranya:
1)    Berbentuk dialog
2)    Ada pelakunya
3)    Untuk dipentaskan
4)    Ada penontonnya

B.    UNSUR PEMBANGUN DRAMA

1.    Unsur Intrinsik
Unsur intrinsik adalah unsur yang membangun  karya sastra dalam karya sastra itu sendiri. Adapun unsur-unsur intrinsik drama adalah sebagai berikut:
a.    Tema
Tema adalah ide dasar atau pijakan pokok penggambaran cerita. Tema drama yang baik harus berdasarkan pengalaman yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari, sehingga dipahami benar oleh penulis dan mudah diterima oleh pembaca naskah drama atau penonton pertunjukan drama. Drama yang merupakan ciptaan kreatif pengarang harus memiliki tema yang kuat, agar tercipta sebuah cerita yang tak lekang oleh waktu. Tema merupakan gagasan pokok yang terkandung di dalam drama. Tema dikembangkan melalui alur dramatik melalui alur dramatik melalui dialog tokoh-tokohnya. Tema drama misalnya kehidupan, persahabatan, kesedihan, dan kemiskinan.
b.    Tokoh dan Penokohan
   Tokoh-tokoh drama disertai penjelasan mengenai nama, umur, jenis kelamin, ciri-ciri fisik, jabatan, dan keadaan kejiwaannya. Watak tokoh akan jelas terbaca dalam dialog dan catatan samping. Watak tokoh dapat dibaca melalui gerak-gerik, suara, jenis kalimat, dan ungkapan yang dgunakan.
  Tokoh adalah orang-orang yang berperan dalam drama. Menurut pentingnya tokoh dapat dibedakan menjadi:
•    Tokoh protagonis : Tokoh yang berwatak baik
•    Tokoh antagonis : Tokoh yang berlawanan dengan tokoh utama
•    Tokoh tritagonis :  Tokoh pelerai antara tokoh protagonis dan tokoh antagonis.

1.    Dilihat dari segi peranan atau tingkat pentingnya tokoh dalam cerita, tokoh dibagi menjadi:
1)    Tokoh utama adalah tokoh yang diutamakan penceritaannya dalam cerita yang bersangkutan. Ia merupakan tokoh yang paling banyak diceritakan, baik sebagai pelaku kejadian maupun dikenai kejadian.
2)    Tokoh tambahan adalah tokoh yang hanya muncul sedikit dalam cerita atau tidak dipentingkan dan kehadirannya hanya jika ada keterkaitannya dengan tokoh utama, secara langsung ataupun tak langsung dan hanya tampil menjadi latar belakang cerita.
2.     Jika dilihat dari fungsi penampilan tokoh, dapat dibedakan menjadi:
1)    Tokoh protagonis adalah tokoh yang kita kagumi, yang salah satu jenisnya disebut hero. Ia merupakan tokoh yang taat norma-norma, nilai-nilai yang ideal bagi kita (Altenbernd & Lewis dalam Nurgiantoro 2004: 178). Identifikasi tokoh yang demikian merupakan empati dari pembaca.
2)    Tokoh antagonis adalah tokoh yang menyebabkan konflik atau sering disebut sebagai tokoh jahat. Tokoh ini juga mungkin diberi simpati oleh pembaca jika dipandang dari kaca mata si penjahat itu, sehingga memperoleh banyak kesempatan untuk menyampaikan visinya, walaupun secara vaktual dibenci oleh masyarakat.
3.     Berdasarkan perwatakannya, tokoh cerita dapat dibedakan menjadi:
1)    Tokoh sederhana adalah tokoh yang hanya memiliki satu kualitas pribadi tertentu atau sifat watak yang tertentu saja, bersifat datar dan monoton.
2)    Tokoh bulat adalah tokoh yang menunjukkan berbagai segi baik buruknya, kelebihan dan kelemahannya. Jadi, ada perkembangan yang terjadi pada tokoh ini.
4.     Berdasarkan kriteria bekembang atau tidaknya perwatakan tokoh-tokoh cerita dalam sebuah   novel, tokoh dibedakan menjadi:
1)    Tokoh statis adalah tokoh cerita yang secara esensial tidak mengalami perubahan    atau perkembangan perwatakan sebagai akibat adanya peristiwa-peristiwa yang terjadi (Altenbernd & Lewis, dalam buku Teori Pengkajian Fiksi 1994: 188).
2)    Tokoh berkembang adalah tokoh yang cenderung akan menjadi tokoh yang kompleks. Hal itu disebabkan adanya berbagai perubahan dan perkembangan sikap, watak dan tingkah lakunya itu dimungkinkan sekali dapat terungkapkannya berbagi sisi kejiwaannya.
5.     Berdasarkan kemungkinan pencerminan tokoh cerita terhadap sekelompok manusia dalam kehidupan nyata, tokoh cerita dapat dibedakan menjadi:
1)    Tokoh tipikal adalah tokoh yang hanya sedikit ditampilkan keadaan individualitasnya, dan lebih ditonjolkan kualitas kebangsaannya atau pekerjaannya Altenbernd & Lewis (dalam Nurgiantoro 2002: 190) atau sesuatu yang lain yang bersifat mewakili.
2)    Tokoh netral adalah tokoh yang bereksistensi dalam cerita itu sendiri. Ia merupakan tokoh imajiner yang hanya hidup dan bereksistensi dalam dunia fiksi.
Tokoh cerita dalam drama dapat diwujudkan dalam bentuk 3 dimensi, meliputi:
a.    Dimensi fisiologi, yakni ciri-ciri fisik yang bersifat badani atau ragawi, seperti usia, jenis kelamin, keadaan tubuh, ciri wajah, dan ciri-ciri fisik lainnya.
b.    Dimensi psikologi, yakni ciri-ciri jiwani atau rohani, seperti mentalitas, temperamen, cipta, rasa, karsa, IQ, sikap pribadi, dan tingkah laku.
c.    Dimensi sosiologis, yakni ciri-ciri kehidupan sosial, seperti status sosial,  pekerjaan, jabatan, jenjang pendidikan, kehidupan pribadi, pandangan pribadi, sikap hidup, perilaku masyarakat, agama, ideologi, sistem kepercayaan, aktifitas sosial, aksi sosial, hobby pribadi, organisasi sosial, suku bangsa, garis keturunan, dan asal usul sosial.
    Penokohan adalah pelukisan tokoh cerita baik keadaan  lahir maupun batinya, termasuk keyakinan hidupnya, adat isriadatnya, dan sebagainya. Ada tiga macam cara untuk  melukiskan atau menggambarkan watak.
•    Cara analitik adalah  pengarang menceritakan atau menjelaskan watak tokoh cerita secara lansung.
•    Cara dramatik adalah pengarang tidak secara langsung menceritakan watak tokoh melainkan menggambarkan watak tokoh dengan cara:
    Melukiskan tempat atau lingkungan sang tokoh
    Menampilkan dialog antar tokoh dan dari dialog-dialog itu akan tampak watak para tokoh dalam cerita.
    Menceritakan tingkah laku perbuatan atau reaksi tokoh terhadap suatu peristiwa.
•    Cara campuran adalah pengarang menggunakan kedua cara tersebut dengan tujuan untuk saling melengkapi.
   Teknik penokohan dilakukan dalam rangka menciptakan citr atokoh cerita yang   hidup dan berkarakter. Watak tokoh cerita dapat diungkapkan melalui salah satu 5 teknik di bawah ini:
•    Apa yang dipikirkan, dirasakan, atau dikehendaki tentang dirinya atautentang diri orang lain.
•    Lakuan, tindakan
•    Cakapan, ucapan, ujaran
•    Kehendak, perasaan, pikiran
•    Penampilan fisik.

c.    Alur/Plot
    Alur disebut juga plot. Alur adalah rangkaian atau jalinan peristiwa berdasarkan hubungan waktu dan hubungan sebab-akibat. Sebuah alur cerita juga harus menjalankan jalannya cerita dari awal (pengenalan) sampai akhir (penyelesaian). Alur cerita terjalin dari rangkaian ketiga unsur, yaitu dialog, petunjuk laku, dan latar/setting.
Jenis alur dapat dikelompokkan dengan menggunakan berbagai kriteria. Berdasarkan kriteria ukuran waktu: (Hariyanto, 2000: 39)
1)    Alur maju, disebut juga alur kronologis, alur lurus atau alur progresif. Peristiwa-peristiwa ditampilkan secara kronologis, maju, secara runtut dari awal, tengah, dan akhir.
2)    Alur mundur, disebut juga alur tak kronologis, sorot balik, regresif, atai flashback. Peristiwa-peristiwa ditampilkan dari tahap akhir atau tengah dan baru kemudian tahap awalnya.
3)    Alur gabungan/campuran, disebut juga progresif-regresif. Karena gabungan antara alur maju dengan alur mundur.
Namun, dalam alur sebuah naskah drama bukan permasalahan maju mundurnya sebuah cerita seperti yang dimaksudkan dalam karangan prosa, alur yang membimbing cerita dari awal hingga tuntas. Jadi, sudah pasti alur dalam drama itu adalah alur maju.
Berdasarkan ktiteria jumlah: (Hatiyanti, 2000:39)
1)    Alut tunggal, biasanya cerita drama hanya menampilkan seorang tokoh protagonis. Cerita hanya mengikuti perjalanan hidup tokoh tersebut.
2)    Alur jamak, biasanya cerita drama menampilkan lebih dari satu tokoh protagonis. Perjalanan hidup tiap tokoh ditampilkan.
Berdasarkan kriteria cara pengakhirannya: (Hariyanto, 2000:39)
1)    Alut tertutup, dalam drama yang beralur tertutup, penampilan kisahnya diakhiri dengan kepastian atau secara jelas.
2)    Alur terbuka, dalam drama yang beralur terbuka, penampilan kisahnya diakhiri secara tidak pasti, tidak jelas, serba mungkin. Jadi akhir ceritanya diserahkan kepada imajinasi pembaca atau penonton.
Sebuah alur dapat dikelompokkan dalam beberapa tahapan, sebagai berikut.
    Pengenalan
Pengenalan merupakan bagian permulaan pementasan drama, pengenalan para tokoh (terutama tokoh utama), latar pentas, dan pengungkapan masalah yag akan dihadapi penonton.
    Pertikaian
Setelah tahap pengenalan, drama bergerak menuju pertikaian yaitu pelukisan pelaku yang mulai terlibat ke dalam masalah pokok.
    Puncak
Pada tahap ini pelaku mulai terlibat dalam masalah-masalah pokok dan keadaan dibina untuk menjadi lebih rumit lagi. Keadaan yang mulai rumit ini, berkembang hingga menjadi krisis. Pada tahap ini penonton dibuat berdebar, penasaran untuk mengetahui penyelesaiannya.
    Penyelesaian
Pada tahap ini dilukiskan bagaimana sebuah drama berakhir dengan penyelesaian yang menggembirakan atau menyedihkan. Bahkan dapat pula diakhiri dengan hal yang bersifat samar sehingga menonton penonton untuk mengira-ngira dan memikirkan sendiri akhir sebuah cerita. 

d.    Dialog
    Ciri khas siatu drama adalah naskah tersebut berbentuk percakapan atau dialog. Penulis naskah drama harus memerhatikan pembicaraan yang akan diucapkan. Ragam bahasa dalam dialog antartokoh merupakan ragam lisan yang komunikatif. Disebut dialog karena percakapan itu minimal dilakukan oleh dua orang. Selain dialog, dalam drama juga dikenal istilah-istilah berikut:
•    Monolog : Adegan sandiwara dengan pelaku tunggal yang membawakan percakapan seorang diri; pembicaraan yang dilakukan dengan diri sendiri
•    Prolog : Pembukaan atau pengantar naskah yang berisi keterangan atau pendapat pengarang tentang cerita yang akan disajikan
•    Epilog : Bagian penutup pada karya sastra yang fungsinya menyampaikan intisari atau kesimpulan pengarang mengenai cerita yang disajikan.


e.    Petunjuk Laku
  Petunjuk laku atau catatan pinggir berisi penjelasan kepada pembaca atau kepada pendukung pementasan mengenai keadaan, suasana, peristiwa, atau perbuatan, tokoh, dan unsur-unsur cerita lainnya. Petunjuk laku sangat diperlukan dalam naskah drama. Petunjuk laku berisi petunjuk teknis tentang tokoh, waktu, suasana, pentas, suara, keluar masuknya aktor atau aktris, keras lemahnya dialog, dan sebagainya. Petunjuk laku ini biasanya ditulis dengan menggunakan huruf yang dicetak miring atau huruf besar semua. Di dalam dialog, petunjuk laku ditulis dengan cara diberi tanda kurung di depan dan di belakang kata atau kalimat yang menjadi petunjuk laku.
f.    Latar atau Setting
   Latar atau tempat kejadian sering disebut latar cerita. Latar menyangkut tiga unsur, yaitu tempat, ruang, dan waktu yang ada dalam pertujukan drama. Latar drama sesuai dengan jalan cerita dan dipilih yang mudah dipentaska agar tetap seperti latar aslinya. Latar memberikan pijakan cerita dan  kesan realistis kepada embaca untuk menciptakan suasana tertentu, yang seolah-olah sungguh ada dan  terjadi (Nurgiyantoro, 1995:17). Bila dipentaskan, latar diwujudkan sebagai:
    Tata panggung
    Tata sinar
    Tata bunyi

g.    Amanat
    Dalam karyanya, pengarang pasti menyampaikan sebuah amanat. Amanat merupakan pesan atau nilai-nilai moral yang bermanfaat yang terdapat dalam drama. Amanat dalam drama dapat diungkapkan secara langsung (tersurat), bisa juga tidak langsung atau memerlikan pemahaman lebih lanjut (tersirat). Apabila penonton menyaksikan drama dengan teliti, dia dapat menangkap pesan atau nilai-nilai moral tersebut. Amanat akan lebih mudah ditangkap jika dram tersebut dipentaskan.
Amanat terbagi dua yakni pesan reliius/keagamaan dan pesan kritik sosial.
1.    Pesan Religius/Keagamaan
Pesan religius/keagamaan menyatakan pesan keagamaan dari sesuatu sesuai dengan aturan agama yang ada. Unsur religius dan keagamaan dalam sastra adalah suatu keberadaan sastra itu sendiri.  Bahkan sastra tumbuh dari sesuatu yang bersifat religius.  Religius dan agama memang erat berkaitan, berdampingan, bahkan dapat melebur dalam satu kesatuan, namun sebenarnya keduanya mengarah pada makna yang berbeda. Dengan demikian religius bersifat mengatasi lebih dalam dan lebih luas dari agama yang tampak formal dan resmi.  Moral religius menjunjung tinggi sifat-sifat manusiawi, hati nurani yang dalam, harkat martabat serta kebebasan pribadi yang dimiliki oleh manusia.
Istilah religius membawa konotasi pada makna agama. Agama lebih menunjukkan pada kelembagaan kebaktian kepada Tuhan dengan hukum-hukum yang resmi, sedangkan religius bersifat lebih mendalam dan lebih luas dari agama yang tampak formal dan resmi (Mangunwijaya, 1982:11-12).  Contoh: Kisah Titanic amanat yang dapat dipetik bahwa manusia tidak boleh sombong dan mengingkari akan kebesaran Tuhan, karena kesombongan adalah awal dari kehancuran.

2.    Pesan Kritik Sosial
 Pesan kritik sosial yakni pesan berupa kritik sosial di mana pengarang memberikan kritikan atas kehidupan sosial di lingkungan tertentu. Sastra yang mengandung pesan kritik dapat juga disebut sebagai sastra kritik yang biasanya akan lahir di tengah masyarakat jika terjadi hal-hal yang kurang beres dalam kehidupan sosial dan masyarakat.
 Hal-hal yang memang salah dan bertentangan dengan sifat-sifat kemanusiaan tak akan ditutupinya, sebab terhadap nilai seni ia hanya bertanggung jawab kepada dirinya sendiri (Nurgiyantoro, 1998: 332).  Contoh: kisah Soe Hoek Gie seorang mahasiswa sastra UI keturunan Cina yang kontra atas kepemimpinan Presiden Soekarno yang mendukung PKI dan anggota politik masa itu yang memperkaya diri sendiri dengan kedudukannya di dalam pemerintahan.

2.    Unsur Ekstrinsik
   Menurut Tjahyono (1985), unsur ekstrinsik karya sastra adalah hal-hal yang berada di luar struktur karya sastra, namun amat mempengaruhi karya sastra tersebut. Unsur ekstrinsik pada karya sastra merupakan wujud murni pesan yang ingin disampaikan pengarang pada pembaca. Adapun unsur ekstrinsik dalam drama terdiri atas empat bagian, yaitu:

1)    Nilai Sosial-Budaya
Nilai sosial-budaya adalah nilai yang berkaitan dengan norma yang ada di dalam masyarakat. Nilai soaual-budaya ini berhubungan dengan nilai peradaban  kita sebagai manusia. Karena budaya mempunyai makna pikiran, akal budi, adat istiadat, sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan tang sukar diubah, dan sesuatu mengenai kebudayaan yang sudah berkembang/beradab/maju, maka nilai-nilainya pun berkembamg sesuai dengan masalah-masalah yangg terjadi pada manusia.
2)    Nilai Moral
Nilai moral adalah nilai yang berkaitan dengan akhlak atau budi pekerti/susila atau baik buruk tingkah laku.
3)    Nilai Agama/Religius
Nilai agama atau religius adalah nilai yang berkaitan dengan tuntutan  beragama.
4)    Nilai Ekonomi
Nilai ekonomi adalah nilai yang berkaitan dengan perekonomian.     
    Namun, unsur-unsur tersebut bisa bertambah ketika naskah sudah dipentaskan. Dalam hal inilah muncul unsur-unsur yang harus diperhatikan seperti:
•    Sutradara,
•    Penonton,
•    Kostum,
•    Panggung,
•    Properti,
•    Tata lampu/pencahayaan,
•    Tata suara/sound sistem,
•    Tata wajah/make up,
•    Organisasi pementasan


ANALISIS DRAMA “PERTEMUAN DUA HATI”, KARYA Nh. DINI

a.    Unsur Intrinsik
1.    Tema
Tema dari drama Pertemuan Dua Hati, karya Nh. Dini, yaitu “Kesabaran Seorang Guru”.
           Hal ini dibuktikan dengan kesabaran Bu Suci dalam menghadapi kenakalan seorang siswa yang bernama Waskito. Yang mana Waskito adalah siswa yang malas yaitu jarang masuk sekolah. Nakal, karena sering mengganggu teman-temannya tanpa alasan dan selalu mengamuk dalam kelas. Namun dengan kesabaran dan keuletan Bu Suci, maka Waskito akhirnya dapat disadarkan.
Bu suci    : Mulai hari ini saya minta Waskito maju, menempati bangku Susi. Susi pindah ke belakang. Mulai hari ini ibu yang akan bertanggung jawab atas apa saja yang kamu lakukan di kelas. Kalau kamu berbuat keji yang dapat membahayakan kawan-kawanmu, gurumu atau dirimu sendiri, Bu Suci akan dikeluarkan! Kamu juga! Kamu akan diberikan masa percobaan selama sebulan untuk memperbaiki diri.
(Waskito sedikit demi sedikit mulai dapat mengendalikan dirinya. Prestasi ‘kecil-kecilan’ Waskito tidak sedikit pun lupit dari perhatian Bu Suci. Hari itu, bel sudah lama dibunyikan. Bu Suci masih berada di dalam kantor. Agak lama kemudian, Bu Suci berjalan menuju ke kelas. Di tengah jalan, Wahyudi mencegatnya)
Bu Suci    : Sejak tadi seisi kelas mencarimu. Kami semua khawatir! Jangan-jangan kamu mengamuk di tempat lain! Malahan ada yang mengatakan barangkali kamu tidak akan mau masuk sekolah lagi, setiap hari ke Banjirkanal memancing!
2.    Tokoh Dan Penokohan
Tokoh-tokoh yang terdapat dalam drama Pertemuan Dua Hati, yaitu:
1)    Tokoh utamanya, yaitu Bu Suci. Ia adalah tokoh yang paling banyak berperan dalam drama, baik sebagai pelaku kejadian maupun dikenai kejadian.
2)    Tokoh tambahannya, yaitu Waskito, Raharjo, Marno, Rini, Denok, Wahyudi, Kepala Sekolah, Pad Darmo, Sinta, Ratna, Susi, Aslan, Dedy, dan Adry.
3)    Tokoh protagonisnya, yaitu Bu Suci. Ia merupakan tokoh yang baik dan pembangun alur dalam cerita.
4)    Tokoh antagonisnya, yaituWaskito. Ia merupaka tokoh yang memberi konflik pada tema dan memiliki karakter yang berlawanan dengan tokoh utama (Bu Suci).
5)    Tokoh sederhana, yaiti Bu Suci. Ia memiliki sifat yang baik dari awal hingga akhir cerita.
6)    Tokoh bulatnya, yaitu Waskito. Ia merupakan tokoh yang memiliki perkembangan dalam kehidupannya, yang awalnya ia merupakan murid yang malas dan nakal, berubah menjadi baik dan rajin. Dan yang kemudian berubah lagi menjadi nakal, hingga akhirnya bisa lagi tersadarkan oleh Bu Suci. Kemudian ia menyadari kesalahannya tersebut.
7)    Tokoh datarnya, yaitu Bu Suci. Ia merupakan tokoh yang dari awal sampai akhir cerita tetap menunjukkan sikap kebaikannya.
8)    Tokoh statisnya, yaitu Bu Suci. Ia merupakan tokoh cerita yang secara esensial tidak mengalami perubahan atau perkembangan perwatakan sebagai akibat adanya peristiwa-peristiwa yang terjadi.
9)    Tokoh berkembangnya, yaitu Waskito. Ia merupakan tokoh yang cenderung akan menjadi tokoh yang kompleks. Hal itu disebabkan adanya berbagai perubahan dan perkembangan sikap, watak dan tingkah lakunya itu dimungkinkan sekali dapat terungkapnya berbagai sisi kejiwaannya.
10)    Tokoh sentralnya, yaitu Waskito. Ia merupakan tokoh yang sangat potensial dalam menggerakkan alur.
11)    Tokoh bawahannya, yaitu Raharjo, Marno, Rini, Denok, Wahyudi, Kepala Sekolah, Pad Darmo, Sinta, Ratna, Susi, Aslan, Dedy, dan Adry.

Penokohan dalam drama Pertemuan Dua Hati, yaitu:
1)    Bu Suci, seorang guru yang baik, ramah, perhatian, tidak membeda-bedakan murid, bijaksana, penyabar, dan tanggung jawab. Kebaikannya ia tunjukan ketika ia mau mengajar di sebuah sekolah di daerah terpencil. Sifat ramahnya ia tunjukkan ketika menyapa murid-muridnya saat pertama kalinya bertatap muka, dengan suasana yang baru. Perhatiannya ia tunjukkan ketika menemukan salah satu nama dalam map absen yang memilki tingkat kehadiran rendah. Dan menanyakannya mengapa tidak pernah masuk. Sampai-sampai ia memerintahkan kepada sejumlah siswa untuk menjenguknya. Sikapnya tidak membeda-bedakan murid ia tunjukkan pada saat mengatur tempat duduk. Ia berlaku adil pada semua murid, entah itu murid yang rajin, malas, nakal, pintar, dan sebagainya. Kebijaksanaanya ia tunjukkan ketika ia masih menerima Waskito atau memberikan kesempatan kepada Waskito untuk tetap mengikuti pelajaran meskipun ia sudah tahu sifat buruknya Waskito. Sikap penyabarnya ia tunjukan ketika ia tetap sabar dalam menghadapi Waskito yang selalu mengamuk, hingga mengganggu murid-murid yang lain. Bahkan dengan sabar, ia  tidak bosan-bosannya selalu menasehati Waskito setiap saat. Dan sikap tanggung jawabnya ia tunjukkan ketika mempertahankan Waskito untuk tetap sekolah, dan akan bertanggung jawab jika Waskito melakukan hala-hal yang merugikan teman-temannya, guru, atau bahkan dirinya sendiri.
2)    Waskito, seorang murid yang nakal, malas, pembangkang, jahat, egois, dan penurut. Kenakalannya terlihat pada perbuatannya yang selalu mengganggu teman-temannya, yaitu suka memukul, melemparkan batu teman-temannya, dan lain-lain. Kemalasannya dapat dilihat pada kehadirannya di sekolah. Bahkan pernah dikeluarkan dari sekolah lamanya karena kemalasannya. Pembangkangnya dapat dilihat pada saat Bu Suci mengatur tempat duduk setiam murid. Dan dia tetap bersikeras untuk tidak berpindah tempat duduk, seakan-akan ia tidak mau diperintahi. Sikap jahatnya dapat dilihat pada kelakuannya terhadap salah satu temannya yang memecahkan lampu sepedanya. Keegoisannya ia tunjukkan pada saat dia mengamuk dan membanting serta merusan tanaman teman-temannya karena tamannya kurang subur, tidak sesubur tanaman teman-temannya. Sifat penurut ia tunjukkan ketika ia menuruti perintah Bu Suci pada saat ia diperintahkan untuk membawa buku tugas yang mereka kumpul ke kantor.
3)    Raharjo, seorang ketua kelas, penakut dan bertanggung jawab. Sifat penakutnya ia tunjukkan ketika ia mengatakan takut pergi ke rumah Waskito karena Waskito orang kaya dan rumahnya besar. Bertanggung jawab ia tunjukkan ketika dia menjawab semua pertanyaan Bi Suci mengenai Waskito meskipun harus dengan paksaan dari Bu Suci.
4)    Marno, murid yang baik dan penyabar. Ia tetap baik pada Waskito meskipun ia pernah dipukul oleh Waskito. Dan tetap sabar hingga tidak menceritakan keburukan Waskito pada orang lain. Namun ia cerita pada Bu Suci karena dipaksa.
5)    Rini, murid yang baik. Ia tetap baik pada Waskito meskipun ia pernah dikena dengan amarahnya Waskito.
6)    Denok, murid yang baik. Ia tetap bersikap baik terhadap Waskito meskipun pernah disakiti oleh Waskito.
7)    Wahyudi, murid yang baik. Ia tetpa baik terhadap Waskito meskipun ia selalu menjadi sasaran pertama Waskito ketika amarahnya kambuh.
8)    Pak Darmo, guru yang kurang bijaksana. Dapat kita lihat pada saat Bu Suci menyampaikan maksudnya untuk mempertahankan Waskito, ternyata Pak Darmo tidak menyetujuinya karena menurutnya menyadarkan seorang murid itu tidak terdapat dalam program atau kurikulum pembelajaran.
9)    Sinta, murid yang baik. Kebaikannya ia tunjukkan ketika ia tetap mau sekelas dengan Waskito yang punya penyakit yang sering kambuh.
10)    Ratna, murid yang baik. Ia tetap baik pada Waskito.
11)    Susi, murid yang baik.
12)    Aslan, murid yang baik, walaupun dia pernah berbohong pada orang tuanya karena lampu sepedanya dipecahkan oleh Waskito.
13)    Dedy, murid yang baik.
14)    Adry, murid yang baik, walaupun dia pernah berbohong pada orang tuanya mengenai dahinya yang bengkak akibat ulah Waskito.

3.    Alur
    Berdasarkan kriteria urutan waktu, alur drama Pertemuan Dua Hati tersebut adalah beralur maju, yaitu bercerita dari awal, tengah, hingga akhir cerita tanpa ada sorot balik.
    Berdasarkan kriteria jumlah, alur dala drama Pertemuan Dua Hati tersebut adalah alur tunggal, yaitu hanya menampilkan seorang tokoh protagonis.
    Berdasarkan kriteria cara pengakhirannya, alur dalam Pertemuan Dua Hati tersebut adalah alur terbuka, karena masih menyisakan pertanyaan bagi pembaca mengenai kelanjutan nasib Waskito. Apakah tetap menjadi murid yang malas, nakal, dan egois?

    Tahapan-tahapan alur yang terdapat dalam drama tersebut adalah:
1)    Perkenalan
a.    (Pada suatu pagi, di sebuah kelas, murid-murid duduk dan menanti kedatangan seorang guru baru. Kepala Sekolah dan Bu Suci masuk secara berdampingan)
(Pengenalan Latar Pentas)
b.    Drama ini dimulai ketika Kepala Sekolah mengantar Bu Suci ke kelas untuk diperkenalkan kepada muri-murid sebagai ibu guru baru yang akan mengajar di kelas tersebut.
Kepala Sekolah    : Ini Ibu Suci. Berusahalah tenang, jangan nakal. Tunjukkan kepada Bu Suci bahwa kalian adalah murid-murid yang patuh.
(Menatap Ibu Suci dan mempersilakan beliau untuk memperkenalkan diri)
Bu Suci    : (Menebarkan pandangan sekilas ke arah murid-murid)
                    Selamat pagi, Anak-anak.
Murid-murid      : (Menyahut dengan serempak) Selamat pagi, Bu!
Bu Suci             : Seperti yang telah dikatakan Bapak Kepala Sekolah, ibu akan menggantikan guru kalian yang sebelumnya pernah mengajar. Panggil saja ibu, Ibu Suci.
(Pengenalan Tokoh)
    Dari penggalan drama di atas, terlihat bahwa drama Pertemuan Dua Hati ini dimulai dengan penggambaran latar pentas yang dibuat oleh pengarang sebagai pengantar cerita. Kemudian, dilanjutkan dengan pengenalan tokoh yang diawali dengan dialog Kepala Sekolah dengan Bu Suci yang menuju ruang kelas untuk diperkenalkan ke Murid-murid sebagai guru baru.
2)    Konflik
Susi    : Waskito jahat atau nakal, saya tidak tahu, Bu! Tapi dia mempunyai kelainan. Suka memukul. Menyakiti siapa saja!
Bu Suci    : Siapa yang pernah dipukul? Atau disakiti?
(Tangan-tangan terunjuk ke atas)
Bu suci    : Bagaimana terjadinya? Kalian bertengkar? Bergelut? Berkelahi?
Aslan        : Tidak, Bu!   
Dedy        : Kalau saya, memang bertengkar! Lalu dipukul!
Raharjo    : Kebanyakan kali tanpa ada yang dipersoalkan, Bu. Tiba-tiba saja dia memecut atau memukul. Yang paling senang menjegal. Sesudah iitu dia pura-pura tidak tahu.
Bu Suci    : Bagaimana dia memukul? Sampai berdarah? Menurut peraturan, kalau ada luka berdarah. Harus lapor kepada kepala sekolah.
Aslan        : Satu kali, dahi saya dipukul. Sorenya, bengkak sebesar telur.
Bu Suci    : Apa kata orang tuamu?
Aslan    : Saya bilang jatuh, Bu.
Bu Suci    : Mengapa Berdusta?
Aslan    : Saya takut dimarahi karena bertengkar di sekolah, Bu.
Bu Suci    : Siapa lagi yang pernah berurusan dengan Waskito?
Adry    : Saya dilempari batu-batu besar, Bu. Untung tidak kena. Tetapi lampu sepeda saya pecah. Saya kena marah di rumah.
Bu Suci    : Kamu katakan bahwa Waskito yang melakukannya?
Adry    : Saya bilang tabrakan dengan teman, Bu.
Bu Suci    : (Dengan nada merendah) Mengapa?
Adry    : (Diam sejenak) Saya tidak suka bapak bikin ke sekolah, Bu.
(Kelas menjadi sepi)
Ratna    : (Menyelutuk) Lebih baik dia tidak usah masuk saja, Bu!
(Murid-murid lain pun secara serempak ikut menyahut) Ya, mudah-mudahan dia pindah!
...
        Pada kutipan di atas terlihat bahwa drama sudah mulai masuk pada tahap konflik. Penggambaran masalah sudah semakin jelas bahwa Waskito sering mengganggu teman-temannya. Dia sering memukul teman-temannya tanpa alasan yang jelas, hingga teman-temannya lebih senang jika Waskito tidak masuk sekolah.

3)    Komplikasi (Peleraian)
(Waskito kembali masuk sekolah. Ini merupakan kali pertama Bu Suci bertemu dengan Waskito. Pemuda berkulit cokelat bersih ini duduk di deretan bangku ketiga dari kiri, di tengah. Hari ini, Bu Suci menyuruh murid-murid berpindah tempat. Tak terkecuali Waskito)
Bu Suci    : (Menunjuk ke arah bangku kedua sebelah kanan) Waskito, coba kamu pindah ke sebelah sana!
Waskito    : Tidak, Bu! Saya di sini saja!
Bu Suci    : (Menahan diri) Mengapa?
(Mengalihkan pandangan ke arah murid lain) Susi ke bangku sana, di belakang! Di samping Denok!
(Mengarahkan pandangan kembali ke Waskito) Kalau kamu tidak mau pindah, coba kamu katakan apa sebabnya! Pasti ada alasanmu, bukan?
(Kembali mengacuhkan Waskito dan mengatur duduk murid-murid lain) Baiklah. Ibu kira, ibu tahu mengapa kamu tidak mau pindah!
(Proses belajar mengajar pun berlalu seperti biasa. Lonceng isrirahat berbunyi)
Bu Suci    : Raharjo, buku bacaan akan dipergunakan kelas lain setelah istirahat. Kamu cepat mengembalikannya ke lemari kantor. Ya! Waskito! Tolong bawakan buku-buku tugas! Ibu tidak dapat membawa semuanya sendiri.
(Bu Suci keluar menenteng tas menuju kantor guru) 
....
        Cerita dilanjutkan dengan pertikaian sedikit antara Waskito dengan Ibu Suci. Pada saat Bu Suci mengatur tempat duduk para murid, Waskito tetap bersikukuh pada tempat duduknya dan tidak mau beranjak seolah-olah tidak mau diperintahimoleh Bu Suci. Akhirnya Bu Suci mengalah dan tidak memaksakan kehendaknya kepada Waskito untuk pindah tempat duduk.

4)    Puncak
...
 Aslan    : (Berlari terengah-engah dan kehabisan nafas) Bu Suci, Waskito kambuh, Bu! Dia mengamuk! Dia mau membakar kelas!
(Guru-guru lelaki termasuk Bu Suci berlarian menuju ruang kelas)
Bu Suci    : (Ketinggalan dan kehabisan nafas) Mengapa begitu? Apa yang menyebabkan dia marah? Kalian bertengkar?
Aslan    : Tidak, Bu! Dia tidak mau keluar istirahat. Wahyudi dan beberapa kawan mau menemaninya, juga tidak keluar. Tadinya saya ikit-ikut, tapi hanya sebentar terus keluar. Tidak tahu lagi apa yyang terjadi! Saya kembali dari kamar kecil, dari jauh terdengar Waskito berteriak-teriak seperti dulu! Betul sama, Bu! Katanya: aku benci! Aku benci kalian semua! Saya masuk kelas, Waskito menodongkan gunting! Entah dari mana! Begitu tiba-tiba, saya berbalik, lari ke kantor!
(Bu Suci berlari menuju kelas, menerobos kerumunan murid-murid yang menonton di pintu. Di sana telah ada Kepala Sekolah. Ia maju membentak dan menghardik para penonton. Waskito berdiri di muka kelas, membelakangi deratan bangku-bangku. Tangannya menggenggam gunting yang tak terbuka)
Kepala Sekolah    : (Suara agak menggelegar) Berikan gunting itu Waskito!
(Waskito terlihat terkejut dengan nada suara kepala sekolah yang sedikit kasar)
Bu Suci    : (Dengan tiga atau empat langkah ke depan merebut gunting tersebut dari tangan Waskito) Ah, kamu ini ada-ada saja! Dari mana kamu dapatkan gunting ini! (Merangkulkan lengan ke arah pundak Waskito sambil mengajaknya keluar dari kelas)
(Peristiwa itu mulai melunturkan kepercayaan pihak sekolah. Bu Suci dengan teguh hati tetap mempertahankan Waskito untuk tudak dikeluarkan dari sekolah. Rapat pun digelar guna membahas peristiwa Waskito ini)
Bu Suci    : Berilah saya waktu sebulan lagi.
Pak darmo    : (Nada jengkel) Sebulan! Sementara itu, sebelum waktu satu bulan habis, barangkali besok atau tiga hari lagi dia membakar kelas Anda! Membakar sekolah kita!
Bu Suci    : Pastilah telah terjadi di rumah, diantara keluarganya atau di kelas yang membuatnya geram. Kemarahannya dilampiaskan kepada siapa kalau tidak kepada kita, lingkungan terdekatnya?
Pak Darmo    : Kalau setap kali dia marah, kita yang menanggung akibatnya, kita yang menjadi korbannya, itu tidak adil! Tidak termasuk dalam program maupun kurikulum! Tugas kita mengajar!
Bu Suci    : (Cepat menyela) Berbicara mengenai tugas, saya kira tugas kita juga termasuk menolomg murid-murid sukar. Saya mulai merasa mengenal dan mengerti dia. Barangkali dia juga demikian terhadap saya. Tetapi kami masih memerlukan waktu.
        (Menoleh ke arah Kepala Sekolah dengan nada rendah hati) Satu bulan, Pak! Saya mohon diberi satu bulan lagi! Kalau dalam jangka waktu satu bulan kedaan Waskito tetap tidak membaik, terserah keputusan Anda dan juga Bapak Kepala Sekolah. Kalau boleh saya mengingatkan, bukan tugas kita mengucilkan Waskito.
(Semua terdiam seolah menyetujui apa yang dikatakan Bu Suci)
(Bu Suci meninggalkan rapat menuju ke kelas)
Bu suci    : Mulai hari ini saya minta Waskito maju, menempati bangku Susi. Susi pindah ke belakang. Mulai hari ini ibu yang akan bertanggung jawab atas apa saja yang kamu lakukan di kelas. Kalau kamu berbuat keji yang dapat membahayakan kawan-kawanmu, gurumu atau dirimu sendiri, Bu Suci akan dikeluarkan! Kamu juga! Kamu akan diberikan masa percobaan selama sebulan untuk memperbaiki diri.
...
    Cerita mencapai puncaknya pada saat Waskito kambuh lagi dan hendak membakar kelasnya. Kejadian kali ini akhirnya kepala sekolah dan beberapa guru termasuk Bu Suci ikut turun tangan mengatasi Waskito. Bahkan Bu Suci berusaha untuk memberikan kesempatan kepada Waskito untuk memperbaiki dirinya.

5)    Peleraian
 (Pelajaran terus berlangsung. Waskito tidak muncul sampai lonceng istirahat dibunyikan. Bu Suci melangkah keluar dan mendapati Waskito duduk di pinggir selokan)s
Bu Suci    : (Melangkah mendekati Waskito) Sedang apa kamu di sini?
(Waskito diam tidak menjawab. Matanya diarahkan ke depan tanpa memandang Bu Suci)
Bu Suci    : Sejak tadi seisi kelas mencarimu. Kami semua khawatir! Jangan-jangan kamu mengamuk di tempat lain! Malahan ada yang mengatakan barangkali kamu tidak akan mau masuk sekolah lagi, setiap hari ke Banjirkanal memancing!
Bu Suci    : (Menyentuh tangan Waskito dan mengajaknya untuk berdiri. Bergandengan menuju kantor.kemudian duduk berdampingan di atas kursi) Apakah kau sadar kau telah melakukan pembunuhan?
(Waskito membelalakan matanya sambil cemberut. Ia ingin membantah namun suaranya seolah tertahan)
Bu Suci    : Ya betul! Pembunuhan! Kamu membanting dan menginjak tanaman yang tidak berdosa. Bayi-bayi tanaman itulah yang kau bunuh. Bu Suci tidak mengira kau bisa sekejam itu. Coba, kalau kamu dewasa, apakah kau kira akan menjadi manusia yang baik? Apakah kamu akan dapat hidup bersama-sama orang lain kalau tetap tidak mampu mengendalikan kemarahanmu?
...
    Cerita ini dileraikan dengan sikap Bu Suci yang selalu tabah menghadapi Waskito, yaitu selalu menasehatinya dan tidak pernah memarahinya. Bu Suci selalu dengan kepala dingin jika berhadapan dengan Waskito.

6)    Penyelesaian
...
Bu Suci    : Kamu berhasil mendapat pujian dari para guru dan kepala sekolah. Pertahankanlah ini! Jangan selalu membuat seisi kelas ketakutan semacam tadi.
(Bu Suci Suci bangkit dari duduknya) Ayo, kembali ke kelas! Kamu meninggalkan kelas dalam keadaan berantakan. Namun tetap saja teman-temanmu ingin membereskan itu untukmu. Tapi kularang mereka menyapu. Aku yakin, sebegitu kamu akan membersihkan lantai, pasti ada yang menolongmu tanpa kusuruh.
(Waskito bangkit dari duduknya. Bu Suci dan Waskito berjalan beriringan menuju ke kelas. Membiarkan hati mereka berdua bertautan satu sama lain)   
        Drama ini diselesaikan dengan pertautan hati Bu Suci dengan Waskito. Dan Waskito segera melaksanakan perintah Bu Suci untuk kembali ke kelas untuk membersihkan kelas yang kotor akibat ulahnya sendiri. Sehingga akhir dari drama tersebut adalah happy ending karena dengan kesabarannya akhirnya Bu Suci berhasil menyadarkan lagi Waskito sehingga mau ikut Bu Suci kembali ke kelas untuk membersihkan tanah-tanah dan kaleng yang berserakan di lantai. 

4.    Dialog
Kepala Sekolah : Ini Ibu Suci. Berusahalah tenang, jangan nakal. Tunjukkan kepada Bu Suci bahwa kalian adalah murid-murid yang patuh.
(Menatap Ibu Suci dan mempersilakan beliau untuk memperkenalkan diri)
Bu Suci    : (Menebarkan pandangan sekilas ke arah murid-murid)
        Selamat pagi, Anak-anak.
Murid-murid    : (Menyahut dengan serempak) Selamat pagi, Bu!
Bu Suci    : Seperti yang telah dikatakan Bapak Kepala Sekolah, ibu akan menggantikan guru kalian yang sebelumnya pernah mengajar. Panggil saja ibu, Ibu Suci.
...
Kutipan di atas disebut dialog karena percakapan itu minimal dilakukan oleh dua orang. Yaitu dialog yang terjali antara Kepala Sekolah, Bu Suci, dan murid-murid.

5.    Petunjuk Laku
Petunjuk laku yang terdapat dalan drama Pertemuan Dua Hati tersebut adalah diantaranya terdapat apad kutipan yang tercetak tebal berikut ini:
1)    Kepala Sekolah    : Ini Ibu Suci. Berusahalah tenang, jangan nakal. Tunjukkan  kepada Bu Suci bahwa kalian adalah murid-murid yang patuh.
(Menatap Ibu Suci dan mempersilakan beliau untuk memperkenalkan diri)
Bu Suci                   : (Menebarkan pandangan sekilas ke arah murid-murid)
        Selamat pagi, Anak-anak.
Murid-murid    : (Menyahut dengan serempak) Selamat pagi, Bu!
Bu Suci          : Seperti yang telah dikatakan Bapak Kepala Sekolah, ibu akan           menggantikan guru kalian yang sebelumnya pernah mengajar. Panggil saja ibu, Ibu Suci.
2)       ...
Bu Suci    : (Duduk sambil membuka map absen) Wah, kamu sungguh beruntung. Nah, ibu ingin tahu siapa Ketua Kelas di sini?
Raharjo    : (Mengacungkan tangan dan menjawab dengan lantang) Saya, Bu!
Bu Suci    : Siapa nama kamu?
Raharjo    : Raharjo, Bu.
Bu Suci    : Baiklah, dengan begini ibu tahu siapa pemimpin dan penanggung jawab kelas ini. Selanjutnya,  ibu akan memanggil nama kaliian satu per satu.
(Ibu Suci memanggil satu per satu nama murid dalam daftar absen)
6.    Latar atau Setting
1)    Latar Tempat
    Latar tempat yang terdapat dalam drama tersebut adalah sebagai berikut:
    (Pada suatu pagi, di sebuah kelas, murid-murid duduk dan menanti kedatangan guru baru)
    (Kepala Sekolah berpamitan keluar ruang. Ibu Suci mengantarkan Kepala Sekolah sampai ke daun pintu.)
    (Kembali ke ruang kelas. Berdiri di muka meja sambil menatap anak-anak didiknya)
    (Marno ragu-ragu untuk menjawab. Ia pun menatap Raharjo yang duduk di sampingnya)
    (... Pemuda berkulit coklat bersih itu duduk di deretan bangku ketiga dari kiri, di tengah... .)
    Bu Suci    : Raharjo, buku bacaan akan dipergunakan kelas lain setelah istirahat. Kamu cepat mengembalikannya ke lemari kantor.
    (Bu Suci keluar menenteng tas menuju kantor guru)
    (Berlari terengah-engah menuju ke ruang guru)
    (Guru-guru lelaki termasuk Bu Suci berlarian menuju ruang kelas)
    (Bu Suci berlari menuju kelas, menerobos kerumunan murid-murid yang menonton di pintu. Di sana telah ada Kepala Sekolah. Ia maju membentak dan menghardik para penonton. Waskito berdiri di muka kelas, membelakangi deratan bangku-bangku. Tangannya menggenggam gunting yang tak terbuka)
    (Bu Suci meninggalkan rapat menuju ke kelas)
    Bu suci    : Mulai hari ini saya minta Waskito maju, menempati bangku Susi. Susi pindah ke belakang. Mulai hari ini ibu yang akan bertanggung jawab atas apa saja yang kamu lakukan di kelas. Kalau kamu berbuat keji yang dapat membahayakan kawan-kawanmu, gurumu atau dirimu sendiri, Bu Suci akan dikeluarkan! Kamu juga! Kamu akan diberikan masa percobaan selama sebulan untuk memperbaiki diri.
    (Waskito sedikit demi sedikit mulai dapat mengendalikan dirinya. Prestasi ‘kecil-kecilan’ Waskito tidak sedikit pun luput dari perhatian Bu Suci. Hari itu, bel sudah lama dibunyikan. Bu Suci masih berada di dalam kantor. Agak lama kemudian, Bu Suci berjalan menuju ke kelas. Di tengah jalan, Wahyudi mencegatnya)
    Bu Suci    : (Menghela nafas) Tanaman mana? Pot-pot di sudut kelas? Di samping pintu?
    Wahyudi    : Bukan! Tanaman percobaan yang tadi pagi kita letakkn di jendela supaya kena panas!
    (Sesampai di kelas, kaleng-kaleng bekas penyok bekas sepatu dan tindihan berat badan! Tanah hitam campur coklat berserakan. Tunas-tunas patah)
    Bu Suci     : (Mengedarkan pandang ke seluruh kelas) Di mana Waskito?
    Aslan    : Keluar, Bu.
    (Pelajaran terus berlangsung. Waskito tidak muncul sampai lonceng istirahat dibunyikan. Bu Suci melangkah keluar dan mendapati Waskito duduk di pinggir selokan)
     (Waskito diam tidak menjawab. Matanya diarahkan ke depan tanpa memandang Bu Suci)
    Bu Suci    : Sejak tadi seisi kelas mencarimu. Kami semua khawatir! Jangan-jangan kamu mengamuk di tempat lain! Malahan ada yang mengatakan barangkali kamu tidak akan mau masuk sekolah lagi, setiap hari ke Banjirkanal memancing!
    Bu Suci    : (Menyentuh tangan Waskito dan mengajaknya untuk berdiri. Bergandengan menuju kantor. Kemudian duduk berdampingan di atas kursi) Apakah kau sadar kau telah melakukan pembunuhan?
     (Waskito tetap terdiam. Badannya tidak tenang. Pantatnya beringsut. Kakinya usil di bawah kursi)

2)    Latar Waktu
Latar tempat yang terdapat dalam drama tersebut adalah yang digaris bawahi berikut ini:
    (Pada suatu pagi, di sebuah kelas, murid-murid duduk dan menanti kedatangan seorang guru baru. Kepala Sekolah dan Bu Suci masuk secara berdampingan)
    Bu Suci    : (Menebarkan pandangan sekilas ke arah murid-murid)
        Selamat pagi, Anak-anak.
    Murid-murid    : (Menyahut dengan serempak) Selamat pagi, Bu!
    (Keesokan harinya, salah seorang murid bernama Waskito tidak masuk kelas selama beberapa hari tanpa alasan atau pemberitahuan yang jelas. Ini tentu saja mengundang tanya bagi Bu Suci sebagai guru baru )
    Bu Suci    : Raharjo! Pergilah ke rumah Waksito sepulang dari sekolah nanti. Atau sore sambil jalan-jalan. Tanyakan mengapa dia lama tidak masuk.
     (Selama beberapa saat, para murid berbincang ramai mengenai Waskito. Suasana kelas sedikit riuh. Bu Suci mendengarkan pengaduan para murid. Bel istirahat berbunyi selang waktu kemudian)
     (Proses belajar mengajar pun berlalu seperti biasa. Lonceng isrirahat berbunyi)
    Bu Suci    : Raharjo, buku bacaan akan dipergunakan kelas lain setelah istirahat. Kamu cepat mengembalikannya ke lemari kantor. Ya! Waskito! Tolong bawakan buku-buku tugas! Ibu tidak dapat membawa semuanya sendiri.
     (Waskito mulai menuju ke arah perbaikan. Ia tidak lagi mengganggu teman-temannya, pendek kata, ia menjadi murid yang paling rajin. Akan tetapi, kali ini Waskito kambuh lagi. Waktu istirahat dimulai)
    Bu Suci    : Berilah saya waktu sebulan lagi.
    Pak darmo    : (Nada jengkel) Sebulan! Sementara itu, sebelum waktu satu bulan habis, barangkali besok atau tiga hari lagi dia membakar kelas Anda! Membakar sekolah kita!
    Bu suci    : Mulai hari ini saya minta Waskito maju, menempati bangku Susi. Susi pindah ke belakang. Mulai hari ini ibu yang akan bertanggung jawab atas apa saja yang kamu lakukan di kelas. Kalau kamu berbuat keji yang dapat membahayakan kawan-kawanmu, gurumu atau dirimu sendiri, Bu Suci akan dikeluarkan! Kamu juga! Kamu akan diberikan masa percobaan selama sebulan untuk memperbaiki diri.
    (Proses belajar pun berjalan seolah tidak terjadi apa-apa sebelumnya sampai bel tanda pelajaran berakhir berbunyi)
     (Waskito sedikit demi sedikit mulai dapat mengendalikan dirinya. Prestasi ‘kecil-kecilan’ Waskito tidak sedikit pun lupit dari perhatian Bu Suci. Hari itu, bel sudah lama dibunyikan. Bu Suci masih berada di dalam kantor. Agak lama kemudian, Bu Suci berjalan menuju ke kelas. Di tengah jalan, Wahyudi mencegatnya)
    Wahyudi    : Bukan! Tanaman percobaan yang tadi pagi kita letakkn di jendela supaya kena panas!
    Bu Suci    : Tidak! Jangan! Biarkan dulu! Dia harus datang atas kemauannya sendiri. Kita tunggu sebentar.
    Bu Suci    : Jangan! Sementara ini biar kotor, tidak apa-apa sebentar saja.
    Bu Suci    : Sejak tadi seisi kelas mencarimu. Kami semua khawatir! Jangan-jangan kamu mengamuk di tempat lain! Malahan ada yang mengatakan barangkali kamu tidak akan mau masuk sekolah lagi, setiap hari ke Banjirkanal memancing!

3)    Latar Suasana
Larat suasana yang terdapat pada drama tersebut adalah yang digaris bawahi berikut ini:
    (Suasana kelas menegang)
    (Suasana kelas yang semula tegang menjadi sedikit tercairkan dengan percakapan yang terjalin akrab antara Ibu Suci dan murid-murid )
    (Kelas tetap sunyi. Tidak ada jawaban. Beberapa orang murid menunduk mencoba menghindari tatapan mata Bu Suci yang menebar ke seluruh ruang kelas)
    (Terdengar bisik-bisik para murid)
    (Raharjo kebingungan. Ia menatap wajah teman sebangkunya. Mencoba mencari dukungan)
    Bu Suci    : (Menatap Raharjo dengan pandangan heran) Mengapa kamu tidak singgah selama ini? Apakah kamu tidak ingin mengetahui mengapa dia tidak masuk?
    (Marno ragu-ragu untuk menjawab. Ia pun menatap Raharjo yang duduk di sampingnya)
    Marno    : (Dengan suara rendah namun jelas) Takut, Bu.
    Raharjo    : (Menatap Ibu Suci dengan ragu-ragu) Rumahnya besar, Bu. Selalu ada anjing yang menggonggong di halamannya.
    (Kelas mendadak berubah senyap kembali)
    (Suasana kelas menjadi tegang)
    (Kelas menjadi sepi)
    (Selama beberapa saat, para murid berbincang ramai mengenai Waskito. Suasana kelas sedikit riuh. Bu Suci mendengarkan pengaduan para murid. Bel istirahat berbunyi selang waktu kemudian)
    Pak darmo    : (Nada jengkel) Sebulan! Sementara itu, sebelum waktu satu bulan habis, barangkali besok atau tiga hari lagi dia membakar kelas Anda! Membakar sekolah kita!
    Bu Suci    : Pastilah telah terjadi di rumah, diantara keluarganya atau di kelas yang membuatnya geram. Kemarahannya dilampiaskan kepada siapa kalau tidak kepada kita, lingkungan terdekatnya?
    (Semua terdiam seolah menyetujui apa yang dikatakan Bu Suci)
    Bu Suci    : (Terkejut dan mempercepat langkah) Mengamuk lagi dia? (Memandang Wahyudi)
    Wahyudi    : (Tertawa terkikih) Tidak, Bu. Tanaman kami dirusak.
    (Sesampai di kelas, kaleng-kaleng bekas penyok bekas sepatu dan tindihan berat badan! Tanah hitam campur coklat berserakan. Tunas-tunas patah)
    (Kedua anak itu mengawasi Bu suci dengan keheranan)
    Bu Suci    : Sejak tadi seisi kelas mencarimu. Kami semua khawatir! Jangan-jangan kamu mengamuk di tempat lain! Malahan ada yang mengatakan barangkali kamu tidak akan mau masuk sekolah lagi, setiap hari ke Banjirkanal memancing!
    (Waskito tetap bungkam)

7.    Amanat
Amanat dari drama Pertemuan Dua Hati tersebut yaitu:
1)    Pesan Religius/Keagamaan
•    Janganlah menghakimi murid yang malas dan nakal, sabarlah dalam menghadapi murid seperti itu.
•    Kita tidak perlu takut pada orang kaya, sesungguhnya mereka adalah hanyalah manusia biasa juga. Makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa.
•    Kita tidak boleh berbohong kepada kedua orang tua. Jujurlah, walaupun dengan kita jujur itu kita dapat hukuman dari orang tua. Mungkin itulah yang terbaik.
•    Kita tidak boleh iri terhadap orang lain khususnya teman, apabila dia lebih hebat dari kita. Justru kita harus berusaha dan memegang prinsip MENGAPA DIA BISA, SAYA TIDAK BISA ?
2)    Pesan Kritik Sosial
•    Sebagai seorang guru, kita harus ramah terhadap murid dan menghadapi mereka dengan kepala dingin.
•    Teman yang baik adalah teman yang mau mengingatkan temannya ketika temannya lagi keliru dalam melangkah. Jadi, ingatkanlah selalu temanmu dan jadilah teman yang terbaik.

b.    Unsur Ekstrinsik
Nilai-nilai yang terkandung dalam drama Pertemuan Dua Hati, yaitu:
1)    Nilai Sosial-Budaya
Nilai sosial terletak pada Bu Suci yang memiliki jiwa sosial yang pernah mengajar di sebuah sekolah kota kecil di Purwodadi selama sepuluh tahun.
Bu Suci    : (Kembali ke ruang kelas. Berdiri di muka meja sambil menatap anak-anak didiknya). Sebelumnya, Ibu mengajar di sebuah kota kecil selama sepuluh tahun.
(Suasana kelas menegang)
Bu Suci    : Pasti beberapa di antara kalian sudah mengetahuinya.
Sinta    : (Mengacungkan tangan sambil bartanya dengan segera) Di mana itu, Bu Suci ?
Bu Suci    : Di Purwodadi. Kalian pasti sudah tahu, bukan ?
Ratna        : Nenek saya tinggal di sana, Bu.
Nilai budayanya terletak pada sikap Waskito yang iri pada teman-temannya karena tanaman percobaan teman-temannya lebih subur daripada tanamannya sendiri. Sehingga dia menghancurkan dan membanting kaleng-kaleng.
Wahyudi    : Waskito, Bu!
Bu Suci    : (Terkejut dan mempercepat langkah) Mengamuk lagi dia? (Memandang Wahyudi)
Wahyudi    : (Tertawa terkikih) Tidak, Bu. Tanaman kami dirusak.
Bu Suci    : (Menghela nafas) Tanaman mana? Pot-pot di sudut kelas? Di samping pintu?
Wahyudi    : Bukan! Tanaman percobaan yang tadi pagi kita letakkan di jendela supaya kena panas!
Bu Suci    : Dicabuti? Semua?
Wahyudi    : Hanya kepunyaan beberapa orang, dibanting kalengnya!
(Sesampai di kelas, kaleng-kaleng bekas penyok bekas sepatu dan tindihan berat badan! Tanah hitam campur coklat berserakan. Tunas-tunas patah)
2)    Nilai Moral
Nilai moral terletak pada sikap Bu Suci yang tetap mempertahankan Waskito sekolah hingga rela memohon kepada kepala sekolah untuk meminta kebijakan agar diberikan kesempatan untuk merubah sikap Waskito menjadi lebih baik.
(Peristiwa itu mulai melunturkan kepercayaan pihak sekolah. Bu Suci dengan teguh hati tetap mempertahankan Waskito untuk tudak dikeluarkan dari sekolah. Rapat pun digelar guna membahas peristiwa Waskito ini)
Bu Suci    : Berilah saya waktu sebulan lagi.
Pak darmo    : (Nada jengkel) Sebulan! Sementara itu, sebelum waktu satu bulan habis, barangkali besok atau tiga hari lagi dia membakar kelas Anda! Membakar sekolah kita!
Bu Suci    : Pastilah telah terjadi di rumah, diantara keluarganya atau di kelas yang membuatnya geram. Kemarahannya dilampiaskan kepada siapa kalau tidak kepada kita, lingkungan terdekatnya?
Pak Darmo    : Kalau setap kali dia marah, kita yang menanggung akibatnya, kita yang menjadi korbannya, itu tidak adil! Tidak termasuk dalam program maupun kurikulum! Tugas kita mengajar!
Bu Suci    : (Cepat menyela) Berbicara mengenai tugas, saya kira tugas kita juga termasuk menolomg murid-murid sukar. Saya mulai merasa mengenal dan mengerti dia. Barangkali dia juga demikian terhadap saya. Tetapi kami masih memerlukan waktu.
        (Menoleh ke arah Kepala Sekolah dengan nada rendah hati) Satu bulan, Pak! Saya mohon diberi satu bulan lagi! Kalau dalam jangka waktu satu bulan kedaan Waskito tetap tidak membaik, terserah keputusan Anda dan juga Bapak Kepala Sekolah. Kalau boleh saya mengingatkan, bukan tugas kita mengucilkan Waskito.
(Semua terdiam seolah menyetujui apa yang dikatakan Bu Suci)
3)    Nilai Agama
Nilai agama terletak pada perkataan teman-teman Waskito yang mendoakan dan mengharapkan agar Waskito segera berhenti sekolah dengan sendirinya tanpa menunggu dikeluarkan dari sekolah.
    (Kelas menjadi sepi)
Ratna    : (Menyelutuk) Lebih baik dia tidak usah masuk saja, Bu!
(Murid-murid lain pun secara serempak ikut menyahut) Ya, mudah-mudahan dia pindah!
Adry    : Untung kalau begitu! Tanpa dikeluarkan, dia keluar sendiri.
4)    Nilai Ekonomi
Nilai ekonomi terletak pada kehidupan Waskito yang menurut pandangan teman-temannya, ia merupakan orang kaya. Rumahnya besar dan dijaga oleh anjing yang selalu menggonggong di halaman rumahnya.
Marno    : (Dengan suara rendah namun jelas) Takut, Bu.
Bu Suci    : Mengapa? Raharjo! Ganti kamu yang menjelaskan! Mengapa kalian takut pergi ke rumah Waskito?
Raharjo    : Marno saja, Bu.
Bu Suci    : Kamu yangg menjadi Ketua Kelas di sini. Ibu kira, kamu seharusnya lebih tahu apa yang terjadi dalam kelasmu. Ibu orang baru di sini, bukan? Kamulah yang memberi penjelasan apa yang ibu perlukan mengenai kelas ini. 
Raharjo    : (Menatap Ibu Suci dengan ragu-ragu) Rumahnya besar, Bu. Selalu ada anjing yang menggonggong di halamannya.
Aslan    : Dia anak orang kaya, Bu.
(Kelas mendadak berubah senyap kembali)

Selasa, 22 Oktober 2013

PRA LEBARAN, TOROBULU MENJADI LAUTAN PENUMPANG#


Tepat pada tanggal 13 Oktober 2013 saya berangkat bersama teman-temanku (Tari, Nuzran, Citra, dan Hesty) untuk pulang kampung. Kami berangkat dari rumah menuju Torobulu mengendarai sebuah mobil Avanza (milik omnya Tari) pukul 07.00 wita dan tiba di Torobulu jam 10.15 wita. Ternyata di sana sudah panjang antrian dan mobil yang kami tumpangi mendapat nomor antrian 70. Kami semua mulai galisah karena antrian mobil 70 sudah pasti lama menunggu. Saya segera mengambil Hp dan menelpon kakakku yang katanya akan pulang kampung juga pada hari yang sama. Ternyata betul, dia saat itu sedang mengantri juga. Setelah fery ret kedua berangkat (pukul 11.00 wita)  kakakku datang dan menyuruhku membeli tiket agar saya ikut pulang kampung dengan dia. Saya segera diantar ke tempat pembelian tiket dan ternyata harus antri lagi. Setelah saya mendapatkan tiketnya, saya menuju ke teman-temanku dan minta ijin kalau saya harus ikut dan pulang kampung bersama kakakku. Mereka mengijinkan. Fery ret ketiga sudah sandar di pelabuhan Torobulu pukul 13.00. Semua sudah standby lagi di tempat masing-masing. Dan lagi-lagi baik mobil teman-temanku maupun motor kakakku tidak bisa masuk dalam kapal. Kami menunggu lagi fery selanjutnya. Begitu seterusnya sampai menjelang malam.
Kami pun segera tersadarkan dengan keadaan bahwa satu hari ini belum makan. Sembari menunggu fery selanjutnya kami menyempatkan diri untuk makan dulu sambil cerita-cerita dengan teman-teman. Ada yang sibuk telpon orangtua dan ada juga yang orangtuanya selalu menelpon karena kekhawatirannya terhadap anaknya yang dari pagi berangkat dan harus berlama-lama di Torobulu menunggu antrian.Hingga fery ret kelima sandar di pelabuhan Torobulu belum bisa juga kami masuk. Setelah  lama kami menunggu, akhirnya fery ret keenam tiba juga pada pukul 20.15. Kakakku segera menuju ke motornya dan Alhamdulalliah kami bisa masuk, kecuali mobil teman-temanku tidak bisa masuk karena yang diutamakan adalah yang pengendara motor dulu.
Setelah beberapa jam perjalanan, akhirnya kapal fery yang kami tumpangi tiba juga di pelabuhan Tampo. Perasaanku sangat legah, mungkin begitulah perasaan semua penumpang pada malam itu. Setelah keluar dari kapal, kami segera melambung dalam kegelapan bersama motor-motor yang lain.
(WA ODE MURNI ANA)

Selasa, 08 Oktober 2013

JALAN SISA BANJIR YANG TERABAIKAN#


              Banjir yang menggemparkan kota Kendari tanggal 23 Juli lalu membuat beberapa area tergenang air tak terkecuali jalan. Di beberapa tempat pun tidak hanya digenangi air, namun harta benda mereka dibawa arus bahkan ada korban meninggal dunia dalam musibah tersebut. Selain itu, prasarana yang lainpun mengalami kerusakan. Salah satunya jalan yang ada di wilayah Kambu, tepatnya di lorong Karisma 2, longsor dan menjatuhkan sebagian badan jalan sehingga jalan menjadi sempit untuk dilalui kendaraan beroda empat. Jalan tersebut longsor  akibat derasnya air yang berasal dari dua arah yaitu air dari Kali Nanga-nanga dan air dari Kali Wanggu hingga menggenangi perumahan warga setempat. Selain itu, derasnya arus juga  meruntuhkan batu-batu penyangga pondasi jembatan sehingga meruntuhkan sebelah badan jalan.

              Dengan rusaknya prasarana jalan tersebut, sejauh ini belum ada upaya dari masyarakat atau pemda (pemerintah daerah) setempat untuk memperbaiki kerusakan jalan yang sewaktu-waktu bisa longsor kembali karena di bawah jembatan ada air mengalir yang bisa membahayakan  para pengguna jalan.
Seharusnya pemda setempat segera mengambil tindakan untuk memperbaiki jembatan yang rusak tersebut dikarenakan jembatan itu dilewati banyak orang dan merupakan jalan alternatif baik itu oleh mahasiswa, siswa-siswa yang berjalan kaki, maupun masyarakat lainnya.


Penjaskes: PGSD harus Tahu Diri#

         Berita mengenai kemarahan mahasiswa Penjaskes terhadap Mahasiswa PGSD cenderung berpengaruh terhadap proses perkuliahan antar kedua program studi tersebut. Tepatnya pada hari kamis tanggal 26 September 2013 sekitar pukul 14.30 wita, ketika sedang dalam proses perkuliahan, ada salah satu dosen dari Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) mengambil alih kelas yang pada saat itu sedang digunakan oleh mahasiswa Penjaskes yang sementara melangsungkan diskusi di ruangan tersebut (salah satu ruangan yang ada di Gedung D, FKIP, UHO). Dosen tersebut langsung mengeluarkan mahasiswa beserta dosennya yang masuk mengajar kala itu. Karena merasa tidak dihargai, mahasiswa Penjaskes yang merasa haknya telah direbut oleh PGSD, mereka melapor kepada senior-seniornya. Karena senior-seniornya juga tidak terima dengan perlakuan mahasiswa PGSD bersama dosen yang mengajar saat itu maka mereka pun angkat bicara dan menghambur di setiap kelas. Mahasiswa yang belajar semua di suruh keluar dan bubar dengan dosen-dosennya. “Mereka hanya menumpang di sini, seharusnya harus tau diri donk. Adik-adik mahasiswa kami masih kuliah dan dipandu oleh seorang dosen. Tiba-tiba datang rombongan dan seorang dosen langsung mengeluarkan adik-adik dan dosen kami tanpa kata permisi dari mereka. Makanya kami menghambur begini, supaya mereka sadar kalau mereka hanya numpang di sini. Seharusnya kira saling menghargai,” tegas Alan, salah satu senior Penjaskes.
               Atas kejadian itu perkuliahan di gedung D mengalami hambatan. “Kami masih ada rasa takut dengan senior-senior Penjaskes yang menghambur saat itu, dan saya rasa kami punya salah. Benar apa yang mereka bilang ‘PGSD hanya menumpang di sini’. Kami hanya menumpang di sini”, tegas Kurnia, salah satu mahasiswa PGSD. Sementara ini dari pihak program studi PGSD sedang mencari upaya agar tidak ada kesalahpahaman lagi antara mahasiswa PGSD dengan mahasiswa Penjaskes.


Senin, 07 Oktober 2013

TIPE-TIPE SEMANTIK ADJEKTIVA DALAM BAHASA MUNA#


NAMA                                 :   EMY SYAHID
NOMOR STAMBUK         :   910 141 012
 PROGRAM STUDI           :   PEND. BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
JUDUL PENELITIAN        :   TIPE-TIPE SEMANTIK ADJEKTIVA DALAM BAHASA MUNA
DOSEN PEMBIMBING    :   I. Drs. La Ode Sidu M., M. S. II. Drs. La Niru
TAHUN SKRIPSI                :   1995

                                                                  KEBAHASAAN
WA ODE MURNI ANA 
NIM: A1D1 11 050
                                                                  
Abstrak
          Fokus penelitian ini adalah tipe-tipe semantik adjektiva dalam bahasa Muna. Setiap bahasa mempunyai tipe yang tersendiri. Demikian halnya dengan bahasa Muna tentu mempunyai tipe yang berbeda dengan bahasa-bahasa daerah lainnya. Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh data dan deskripsi yang lengkap tentang tipe-tipe semantik adjektiva dalam bahasa Muna. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode lapangan (field research) dan metode pustaka (library research), dengan teknik pengumpulan data  (1) elisitasi, (2) perekaman, (3) pencatatan dan pengarsipan data. Sumber data dalam penelitian ini adalah tuturan-tuturan para penutur asli bahasa Muna yang berdomisili di desa Lahontohe, Kecamatan Tongkuno, Kabupaten Muna. Dari hasil analisis data menunjukkan bahwa dari tipe-tipe semantik adjektiva dalam bahasa Muna ditemukan ciri-ciri umum yang terdiri atas adjektiva sebagai pengisi predikat, adjektiva sebagai pengisi atribut, dapat berfrase dengan “sepaliha”, dan dapat berimbuhan feka-, sika-, dan mo-. Adapun tipe-tipe semantik adjektiva dalam bahasa Muna dapat dikelompokkan menjadi adjektiva makna warna, adjektiva makna bentuk, adjektiva makna ukuran, dan adjektiva makna rasa.
Kata kunci:  semantik, adjektiva.

1.    Pendahuluan
1.1    Latar Belakang

         Bangsa Indonesia terdiri atas beberapa suku bangsa yang mendiami pulau-pulau Nusantara dari Sabang sampai Merauke. Suku -suku bangsa ini mempunyai bahasa yang berbeda-beda satu dengan yang lain. Bahasa digunakan sebagai alat komunikasi anggota masyarakat dalam berbagai aktivitas kehidupan mereka. Dalam kaitan ini, bahasa juga merupakan refleksi tata kehidupan masyarakat. Oleh karena itu, pengetahuan tentang bahasa sangat bermanfaat bagi orang yang ingiin mempelajari selik-beluk budaya pemilik bahasa, dalam hal ini budaya daerah.
          Dalam hubungannya dengan bahasa Indonesia, bahasa daerah berfungsi sebagai (1) pendukung bahasa Nasional, (2) bahasa pengantyar di sekolah dasar di daerah tertentu pada tingkat permulaan untuk memperlancar pengajaran bahasa Indonesia dan pengajaran lainnya, (3) alat pengembangan dan pendukung kebudayaan daerah. Fungsi bahasa daerah sebagai hasil yang dicapai dalam Seminar Politik Bahasa Nasional tahun 1975, yakni sebagai (1) lambang kebanggan daerah, (2) lambang identitas daerah, (3) alat penghubung antarwarga masyarakat daerah.
            Bahasa sebagai hasil budaya manusia mempunyai berbagai fungsi, yakni (1) untuk mengembangkan kebudayaan, (2) untuk mengawetkan dan meneruskan kebudayaan, (3) untuk mengadakan integrasi dan adaptasi sosial, (4) untuk mengadakan control sosial, dan (5) untuk menyatakan ekspresi diri.
Bahasa Muna adalah salah satu bahasa daerah di Sulawesi Tenggara yang diharapkan dapat memberikan sumbangan dalam pengembangan dan pembinaan bahasa Nasional. Bahasa Muna adalah salah satu bahasa daerah yang mempunyai penutur yang cukup besar dan merupakan bahasa yang hidup dan berkembanng yang dipergunakan oleh satu kelompok suku bangsa sebagai bahasa pergaulan. Bahasa Muna, disamping sebagai alat komunikasi juga berfungsi sebagai alat pendukung kebudayaan daerah bagi masyarakatnya. Penelitian ini diharapkan akan sangat bermanfaat dalam usaha pembinaan dan pengembangan bahasa Muna. Di pihak lain penelitian ini diharapkan pula dapat mengemukakan tipe-tipe semantik adjektiva dalam bahasa Muna.

1.2    Kajian Teori
a.    Pengertian Semantik

       Tarigan (1993: 7) menyatkan bahwa “semantik adalah telaah makna. Semantic menelaah lambanng-lambang atau tanda-tanda yang menyatakan makna, hubungan makna yang satu dengan yang lain, dan pengaruhny terhadap manusia dan masyarakat. Oleh karena itu, semantik mencakup makna-makna kata, perkembangannya, dan perubahannya.”
Makna semantik dalam bidang linguistik adalah mempelajari hubungan antara tanda-tanda linguistik dengan hal-hal yang ditandainya. Jenis pendekatan semantik yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah semantik leksikal bukan semantik gramatikal. Dengan demikian, penelitian ini hanya melibatkan kata sebagai objek garapan. Oleh karena kata ada yang bermakna lugas dan bermakna perluasan maka penelitian ini hanya mengamati makna lugas atau denotatif.
        Dalam usaha menipakan semantik adjektiva digunakan teori hubungan makna, yakni hubungan sinonimi, hiponimi, dan ontonimi. Yang utama dipakai dalam penelitian ini adalah hubungan hiponimi. Selanjutnya dalam usaha mengetahui identitas makna kata dengann lebih seksama dipakai teori analisis komponen.

b.    Pengertian Adjektiva
          Dalam Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia (Depdikbud, 1988: 209) dijelaskan sebagai berikut:
 Adjektiva, yang juga disebut kata sifat atau kata keadaan, kata yang dipakai untuk mengungkapkan sifat atau keadaan orang, benda, atau binatang, dan mempunyai ciri sebagai berikut:
1.    Adjektiva dapat diberi keterangan pembanding, seperti lebih, kurang, dan paling: lebih besar, paling     baik, paling mahal.
2.    Adjektiva dapat diberi keterangan penguat, seperti  sangat, amat, benar, sekali, dan terlalu: sangat indah, amat tinggi, pandai benar, murah sekali, terlalu murah.
3.    Adjektiva dapat diingkari dengan kata ingkat tidak : tidak bodoh, tidak salah, tidak benar.
4.    Adjektiva dapat diulangi dengan awal se- dan akhiran –nya: sebaik-baiknya, serendah-rendahnya, sejelek-jeleknya.
5.    Adjektiva pada kata tertentu dapat berakhir antara lain dengan –er, -(w)i, -iah, -if, dan –ik: honorer, duniawi, ilmiah, negatif, elektronik.

c.    Ciri-ciri Adjectiva

        Menurut Abdul Chaer dalam bukunya Pengantar Semantik Bahasa Indonesia mengemukakan kriteria kata sifat atau adjektiva sebagai berikut: (1) kata sifat dapat diikuti dengan kata keterangan sekali, (2) kata sifat berada di belakang kata benda, (3) dalam gabungan kata yang berupa idiom, kata sifat dapat menduduki posisi awal atau berada di muka kata benda, (4) dalam gabungan kata yang bermakna perbandingan kata sifat diletakkan di depan kata benda.
Selain itu, berikut ini akan dikemukakan beberapa cirri adjektiva:
1.    Dilihat dari kestabilan waktu, adjektiva mempunyai kestabilan menengah.
2.    Dilihat dari fungsinya dalam kalimat, adjektiva mempunyai dua fungsi, yaitu berfungsi sebagai predikat dan berfungsi sebagai atribut.
3.    Dilihat dari segi semantiknya, adjektiva menyatakan keadaan, kualitas, derajar dari sesuatu (Edi Subroto, 1986: 2) 

2.    Metode Penelitian

         Metode yang dipakai sebagai landasan dalam pelaksanaan penelitian ini adalah metode lapangan (field research). Sesuai dengan seifat penelitian yang deskriptif, maka kata deskriptif bermakna bahwa penelitian ini dilakukan seobjektif mungkin dan didasarkan semata-mata pada fakta yang ada. Agar mencapai deskripsi yang factual dan informatif, selain menggunakan metode lapangan peneliti juga menggunakan metode pustaka (library research), dengsn teknik pengumpulan data : (1) elisitasi: teknik menggunakan pertanyaan langsung yang ditujukan kepada informan, (2) perekaman: teknik yang digunakan untuk melengkapi data yang terkumpul dengan cara merekam jawaban dari informan, (3) pencatatan dan pengarsipan data: teknik yang digunakan untuk mencatat data yang diperoleh, dan data yang terkumpul diseleksi, kemudian ditata secara taratur dan sistematis.
Prosedur pelaksanaan penelitian ini dibagi dalam empat tahap, yakni:
1.    Tahap persiapan : usaha pengurusan surat izin (rekomendasi) penelitian.
2.    Tahap pengumpulan data: pengumpilan data dilakukan selama satu bulan, terhitung mulai tanggal 16 Februari 1995.
3.    Tahap koreksi dan seleksi data: semua data mentah dikoreksi dan diseleksi untuk menentukan mana yang dapat dijadikan sebagai data dan mana yang tidak dapat dijadikan sebagai data.
4.    Tahap analisis data: untuk menentukan cirri-ciri adjektiva dalam bahasa Muna, dan menentukan tipe-tipe semantik adjektiva dalam bahasa Muna.

3.    Hasil dan Pembahasan Penelitian
3.1    Ciri-ciri adjektiva bahasa Muna

•    Adjektiva sebagai pengisi predikat
Contoh:
Bhadhu La Isa o kapute ‘Baju Isa putih’.
Ghoti kaholeno nolala ‘Nasi gorengnya pedas’.
•    Adjektiva sebagai pengisi atribut
Contoh:
Adhara bholo ‘Kuda hitam’.
Kahitela motugha ‘Jagung tua’.
•    Dapat berfrase dengan ‘sepaliha’
Contoh:
Nohali sepaliha ‘mahal sekali’.
Nondalo sepaliha ‘dalam sekali’.
•    Dapat berimbuhan feka-, sika-, dan mo-
Contoh:
/lala/ ‘pedas’             /fekalala/ ‘pedaskan’
/koadho/ ‘bagus’       /sikakoadho/ ‘sangat bagus’
/rubu/ ‘kecil’             /morubu/ ‘kecil’

3.2    Tipe-tipe semantik adjektiva bahasa Muna
3.2.1    Adkektiva makna warna

a.    Adjektiva yang menyatakan warna merah ‘kadea’
kata kadea ‘merah’ ini dan hiponimnya dapat dipakai untuk menyatakan warna pakaian, warna benda, dan sebagainya.
Contoh:
Aiku nepake bhadhu kadea monganta. ‘Adikku memakai baju merah hati’.
Inaku netobhe bunga mbongadhu. ‘ibu saya memetik bunga merah jingga’.
Kedua contoh tersebut menyatakan bahwa kedudukan kata tersebut tidak berbeda dengan kedudukan kata kadea ‘merah’, yakni menempati kolokasi yang sama.
b.    Adjektiva yang menyatakan makna putih ‘kapute’
Dalam pemakaiannya berdasarkan kolokasi masing-masing.
•    Kata dhampi ‘putih’ hanya dapat dipakai untuk adhara ‘kuda’
Contoh: Rako adhara dhampi maitu. ‘Tangkap kuda putih itu’.
•    Kata sambira ‘putih kemerahan’ hanya dapat dipakai untuk manusia.
Contoh: Bhekaku o sambira. ‘Kucingku putih kemerahan’.
•    Kata marampute ‘pucat lesi’ hanya dipakai untuk manusia.
Contoh: Hula Wa Ani nomarampute wurahano.
      ‘Wajah Ani tampak pucat lesi’.
•    Kata bhakasa ‘putih yang bintik-bintik hitam’ hanya dipakai untuk ayam.
Contoh: Isaku negholi manu bhakasa.
      ‘Kakakku membeli ayam putih yang berbintik-bintik hitam’.
c.    Adjektiva yang menyatakan makna hitam
Secara sistematis kata yang menyatakan makna hitam mempuyai subtype yang meliputi:
•    Kaghito    ‘hitam’
•    Bholo    ‘hitam untuk kuda’
•    Mongkolo    ‘hitam untuk ayam’
Contoh:
Manu mongkolo maitu manu La Ita. ‘Ayam hitam itu ayam La Ita’
Amaku nosawi ne adhara bholo ‘Ayah saya menunggang kuda hitam.’
d.    Adjektiva yang menyatakan makna coklat
Pembagian kata untuk menyatakan warna coklat adalah salaedha ‘coklat’ dan deangkuli ‘sawo matang’.
Contoh:
Inaku nepake badhu salaedha ‘Ibu saya memakai baju coklat’.
Kulino anano o deangkuli ‘Kulit anaknya sawo matang.’
e.    Adjektiva yang menyatakan warna biru
Bahasa Muna juga mengnal adanya makna biru, yang disebut dengan kakanda. Kata kakanda ‘biru’ juga mempunyai tipe bawahan, yaitu kakanda motugha ‘biru tua’ dan kakanda morangku ‘biru muda’.
Contoh:
Inaku negholi sala kakanda ‘Ibuku membeli celana biru’.
f.    Adjektiva yang menyatakan warna kuning
Adjektiva makna kuning berkolokasi netral, serta tidak mempunyai tipe bawahan.
Contoh:
Dobaresi depake badhu kakuni.
‘Mereka berbaris dengan memakai baju kuning’.
g.    Adjektiva yang menyatakan makna hijau
Adjektiva idho ‘hijau’ juga mempunyai tipe bawahan yakni idho bhale ‘hijau daun’, idho motugha ‘hijau tua’, dan idho morangku ‘hijau muda’.
Contoh:
Isaku nepake badhu idho ‘Kakak saya memakai baju hijau’.
h.    Adjektiva yang menyatakan makna abu-abu
Adjektiva makna abu-abu  ‘ngkabu’ tidak mempunyai tipe bawahan dan berkolokasi netral.
Contoh:
Manuno ngkabu noghutomo.
‘Ayamnya yang abu-abu sudah bertelur’.
i.    Adjekriva yang menyatakan warna ungu
Adjektiva makna ungu ‘wungo’ tidak mempunyai tipe bawahan dan berkolokasi netral.
Contoh:
Ndorono o kapute badhuno o wungo.
‘Roknya putih, bajunya ungu’.

3.2.2    Adjektiva makna bentuk

a.    Adjektiva makna bentuk yang berunsurkan garis lurus
Garis lurus yang dimaksud dalam penelitian ini adalah garis yang jika dilihat dari salah satu ujungnya ke ujung yang lain membentuk atau berupa satu titik. Adjektiva lurus dalam bahasa Muna adalah nelaa yang mempunyai kemiripan dengan nentade ‘tegak lurus’. Kata nelaa digunakan secara umum, kecuali pada manusia, sedangkan kata nentade hanya berkolokasi pada manusia.
Contoh:
Kabongka tatu nelaa sepaliha.
‘jalan raya sana lurus sekali.’
Adjektiva sese ‘miring’ mempunyai kesamaan dengan rampi ‘miring’ dan bele atau nobele ‘miring’. Berdasarkan kolokasinya, ketiga kata tersebut mempunyai kolokasi yang berbeda-beda. Kata sese hanya berkolokasi pada sesuatu garis lurus, namun karena sesuatu hal dia mengalami kemiringan (pohon), sedangkan rampi hampir sama dengan sese, tetapi kadar kemiringan sese lebih banyak jika dibandingkan dengan rampi.
Contoh:
Katampano sikola mani nosese.
‘Palangnya sekolah kami miring.’
Adapula kata nempaga ‘miring’. Kata ini hanya berkolokasi pada makhluk hidup dan tidak dapat digunakan pada kayu atau pohon.
Contoh:
Isaku nokala nempaga rampano nobie wowohono.
‘Kakakku jalan miring, karena berat bebannya.’
Adjektiva potate ‘rata’ juga menyatakan keadaan bentuk yang berstandar garis lurus dan mempunyai kolokasi khusus, yaitu permukaan suatu bidang atau benda.
Adjektiva ranga ‘kurus’ menyatakan keadaan bentuk benda yang menyerupai garis lurus dan berkolokasi khusus pada manusia dan binatang.
Contoh:
Aiku noranga sipaliha rampahano nosaki.
‘Adikku kurus sekali karena sakit.’
b.    Adjektiva makna bentuk yang berunsurkan garis lengkung
Yang termasuk adjective tipe ini, misalnya nengkonu ‘bulat’, bengku ‘bengkok’, ghubi ‘buncit’, dan sebagainya.
Adjektiva nengkonu ‘bulat’ berkolokasi netral dan mempunyai subtipe yaitu dhawanta ‘bulat panjang’ dan dharempe ‘bulat lepes’.
Contoh:
Mata Wa Abe nengkonu peda golu,
‘Mata Wa Abe bulat seperti bola.’
Adjektiva bengku ‘bengkok’ berkolokasi pada beberap macam benda seperti parang maka dipakai kata noghelu.
Contoh:
Kapuluno amaku noghelu.
‘Parang ayah saya bengkok’.
Adjektiva ghubi ‘buncit’ berkolokasi khusus pada perut dan ukuran bentuk relatif besar.
Contoh:
Taghi La Ita noghubi rampahano nokoghule.
‘Perut La Ita buncit karena cacingan’.
Adjektiva weo ‘bengkak’ berkolokasi khusus pada perut, weo dan tente berkolokasi pada beberapa benda yang sifatnya membengkak, baik pada wajah maupun badan.   
Contoh:
Katifuhano ani nehulano noweo
‘Sengatan lebah pada wajahnya tampak bengkak’.
Adjektiva nobhenta ‘lubang’, kadar kelengkungannya kecil. Adjektifa notangga ‘retak’, keretakannya merupakan garis lengkung yang melingkar. Adjektiva nowore  ‘retak’, keretakannya merupakan garis lengkung yang memanjang.
Contoh:
Toned bhalano notanggagho nokantibhae oe kapana.
‘gelas besar retak karena dikena air panas’.
Adapula adjektiva nobhogha mempunyai makna pecah terbelah dan adjektiva nopuro mempunyai makna pecah terbelah hancur berkeping-keping.
Contoh:
Piri kampumaahano nobhoghae bheka.
‘piring tempat makan dipecahkan oleh piring.’
O toned nondawu ne sume kansuru nopuro.
‘gelas yang jatuh di lantai pecah berkeping-keping’.
Adjektiva gure ‘keriting’ menyatakan bentuk benda yang menyerupai garis lengkung yang mempunyai subtipe yaitu nogangga ‘keriting sekali’, mangkalu ‘keriting yang bagus’, dan busuusa ‘ombak-ombak’.
Dalam bahasa Muna dikenal pula kata ongko ‘bongkok’ dan bungku ‘bongkok’. Adjektiva ini mempunyai subtipe yaitu nololo ‘bongkok sekali’. Kata ini hanya berkolokasi pada manusia yang sudah tua sekali.
Contoh:
Kamokula te kapomosiraha mani nololomo.
‘orang tua di tetangga kami sudah bongkok sekali’.

3.2.3    Adjektiva Makna Ukuran

           Dari penyaringan data yang telah dilakukan, diperoleh dua belas tipe adjektiva yang menyatakan ukuran, yaitu (1) ukuran jarak, (2) ukuran panjang, (3) ukuran tinggi, (4) ukuran luas, (5) ukuran kedalaman, (6) ukuran ketebalan, (7) ukuran isi, (8) ukuran jumlah, (9) ukuran waktu, (10) ukuran berat, (11) ukuran besar, dan (12) ukuran usia.
a.    Adjektiva yang menyatakan ukuran jarak
       Untuk menyatakan adjektiva ukuran jarak dalam bahasa Muna dikenal nomaho ‘dekat’ dan nokodoho ‘jauh’.
Contoh:
Lambu mani nomaho bhe daoa ‘Rmah kami dekat dengan pasar’.
Sikolano nokodoho ampa naini ‘Gedung sekolahnya jauh dari sini’. 

b.    Adjektiva yang menyatakan ukuran panjang
       Dilihat dari segi fakta yang diacu oleh kata-kata yang menyatakan ukuran panjang adalah benda yang berbentuk memanjang secara horisontal (kecuali menyatakan ukuran ular), sedangkan ukuran tinggi yang diacu adalah benda-benda yang berbentuk memanjang secara vertikal. Dalam bahasa Muna kedua hal ini dapat dibedakan satu dengan yang lain.
       Dalam bahasa Muna ukuran panjang mempunyai tata tingkat, yaitu pendek. Kata yang dipakai untuk melambangkan ukuran pendek adalah nengkubu dan nepanda untuk rendah. Untuk ukuran pendek dalam bahasa Muna mempunyai tipe bawahan, yakni kambubuku ‘pendek’ dan kapaapanda ‘pendek atau rendah’.
Contoh:
Mie mepandano mina namooli nopunda.
‘Orang yang rendah/pendek tidak tangkas melompat.’
Pughuno ghaiku nepandahi.
‘Pohon kelapa saya rendah-rendah’. 

c.    Adjektiva yang menyatakan ukuran tinggi
       Dalam bahasa Muna dikenal kata-kata seperti langke ‘tinggi’, bhanta kire ‘setinggi alis’, dan rente ‘rendah’. Adjektiva langke digunakan untuk benda-benda yang berukuran tinggi, sedangkan kata bhanta kire digunakan untuk menyatakan ukuran benda yang tingginya setinggi alis. Adjektiva rente ‘rendah’ digunakan untuk permukaan air.
Contoh:
Nofoni te wawono ghai melangkeno.
‘Ia memanjat kelapa yang tinggi.’
Kalangkeno lambu amaitu ampa bhanta kire.
‘Tinggi rumah itu setinggi alis’.
Oeno laano Tula norentemo.
‘Permukaan air kali Tula sudah rendah’. 

d.    Adjektiva yang menyatakan ukuran luas
       Untuk menyatakan ukuran luas dalam bahasa Muna dikenal kata lalesa yang berarti luas.
Contoh:
Kareteno lambuno nolalesa sipaliha.
‘Halaman rumahnya luas sekali’.
e.    Adjektiva yang menyatakan ukuran kedalaman
Adjektiva yang menyatakan kedalaman dalam bahasa Muna hanya mengenal ndalo ‘dalam’.
Contoh:
Kandalono sumuno alu rofa.
‘Dalam sumurnya delapan depa’. 

f.    Adjektiva yang menyatakan ukuran ketebalan
      Adjektifa yang menyatakan ketebalan dalam bahasa Muna adalah kata kapa ‘tebal’.
Contoh:
Negholi dopi mokapano mbali kaghontono lambuno.
‘Ia membeli papan yang tebal untuk pintu rumahnya.’ 

g.    Adjektiva yang menyatakan
       Dalam bahasa Muna kata yang biasa dipakai untuk menyatakan ukuran isi adalah pono ‘penuh’, dan mina nokoihi ‘tidak berisi’. Untuk kata pono mempunyai subtipe buke, suke ‘penuh sekali’.
Contoh:
Oe we gusi nopono ‘Air di dalam gusi penuh.’
h.    Adjektiva yang menyatakan ukuran jumlah
Dalam bahasa daerah Muna kata-kata yang menyatakan ukuran jumlah adalah bhari ‘banyak’, seendai ‘sedikit’, dan sekandai-ndai ‘sedikit sekali’.
Contoh:
Amaku nobhari doino ‘Ayah saya banyak uangnya.’
Nofumaa seendai kaawu ‘Ia hanya makan sedikit.’ 

i.    Adjektiva yang menyatakan ukuran waktu
      Adjektiva yang menyatakan ukuran waktu dalam bahasa Muna meliputi nompona ‘lama’, panaompona ‘tidak lama’, sebaantara ‘sebentar’.
Contoh:
Amino moghane nomponamo nomate ‘Kakeknya sudah lama meninggal.’
Panaompona amaimo tora ‘Tidak lama kemudian, saya akan dating lagi.’ 

j.    Adjektiva yang menyatakan ukuran berat
     Adjektiva yang menyatakan ukuran berat dalam bahasa Muna meliputi nobhie ‘berat’, dan nosape ‘ringan’.
Contoh:
Nobhie kadu aini pae amooliea ‘Karung ini berat, tidak dapat saya angkat.’
Bhakeno kadhawa nosape ‘Buah kapuk ringan.’ 

k.    Adjektiva yang menyatakan ukuran besar
        Adjektiva yang menyatakan ukuran besar dalam bahasa Muna meliputi bhala ‘besar’ dan rubu ‘kecil’.
Contoh:
Lambu Wa Pitiri nobhala ‘Rumah Wa Pitiri besar.’
Nosawi nekapala morubuno ‘Dia menumpang kapal kecil.’

l.    Adjektiva yang menyatakan ukuran usia
     Untuk menyatakan ukuran ukuran usia dalam bahasa Muna terdapat beberapa kata misalnya tugha, kamokula, rangku, dan bughou. Kata tugha dipakai untuk menyatakan usia tuatentang sesuatu, sedangkan kamokula mempunyai makna yang sama dengan kata tugha, yakni ‘tua’. Kata kamokula berkolokasi pada makhluk hidup.
Contoh:
Awano robhine nokamokulamo
‘Neneknya sudah tua’
Kata tugha tidak dipakai untuk makhluk hidup.
Contoh:
Naando norangku dadino, nampali-mpali kaawu gunano.
‘Ketika usia muda, ia hanya berfoya-foya kerjanya.’
Kata bughou dipakai untuk menyatakan benda-benda yang sifatnya baru.
Contoh:
Bheta nepakeno maitu naando nobughou.
‘Sarung yang dipakainya itu masih baru.’

3.2.4    Adjektiva makna rasa

a.    Rasa yang dialami oleh pikiran
      Dalam bahasa Muna kata-kata yang menyatakan rasa yang dialami oleh pikiran, yakni nomuda ‘mudah atau gampang’, nohali ‘sulit atau sukar’, noghegha ‘sibuk’, dan nopokolu ‘kalut atau kusut’.
Contoh:
Kalentu tamba-tamba nomuda ‘Hitungan menjumlah itu gampang.’
Kalentu kaeudhihamani indewi nohalihi.
‘Hitungan yang kami ujikan kemarin sulit-sulit.’
Nopokolu fekirino rampano nobhari dosano.
‘Pikirannya kalut karena banyak utangnya.’ 

b.    Rasa yang dialami oleh hati
       Untuk menyatakan rasa takut dalam bahasa Muna dikenal dengan tehi ‘takut’.
Contoh:
Aotehi akala korondoha ‘Saya takut jalan malam.’
Kata susah dalam bahasa Muna adalah sabha ‘susah’.
Contoh:
Nobhari anahi nembali kasabha ‘Banyak anak banyak susah.’
Kata yang menyatakan rasa ragu-ragu dalam bahasa Muna dikenal dengan bara-bara ‘ragu-ragu’.
Contoh:
Lalono nobara-bara ane nokala amoisa.
‘Hatinya ragu-ragu kalau berjalan sendiri.’
Untuk menyatakan rasa hati rela dalam bahasa Muna adalah lera ‘rela’.
Contoh:
Inaku nolera mpu-mpu nowagho doi basitie.
‘Ibuku ikhlas memberikan uang kepada keluarganya.’
Dalam bahasa Muna kata yang menyatakan rasa marah dan benci biasa disebut dengan nomara ‘marah’ dan norakue ‘benci’.
Contoh:
Ama nomara rampahano aiku mina nokala wesikola.
‘Ayah marah, karena aadik tidak pergi ke sekolah.’
Arakue awura hulano ‘Saya benci melihat wajahnya.’ 

c.    Rasa yang dialami oleh indera
      Adjektiva makna rasa yang dialami oleh badan dalam bahasa Muna diantaranya gharo ‘lapar’, wehi ‘kenyang’, wule ‘lelah’, saki ‘sakit’. Untuk kata gharo ‘lapar’ dan wehi ‘kenyang’ merupakan rasa yang dialami oleh badan khususnya perut. Untuk kata wule ‘lelah’ dan nosaki ‘sakit’ merupakan rasa yang dialami oleh badan. Untuk rasa sakit dalam bahasa Muna mengenal dua bentuk, yaitu nosaki (sakit pada seluruh badan) dan nolea (sakit pada bagian-bagian tertentu saja).
Contoh:
Sabhangkaku nolea ghagheno rampahano nondawu.
‘teman saya sakit kakinya karena jatuh.’
Adjektiva makna rasa yang dialami oleh lidah, dalam bahasa muna antara lain paghi ‘pahit’, meko ‘manis’, nombaka ‘enak’, tembe ‘tawar’, kolo ‘masam’, dan nokara ‘asin’.
Contoh:
Roono kapaea nopaghi ‘Daun papaya rasanya pahit.’
Kenta topa nokara ‘Ikan kering rasanya asin.’
Adjektiva makna rasa yang dialami oleh kulit dalam bahasa Muna di antaranya moito ‘gatal’, pana ‘panas’, rindi ‘dingin’, dan halusu ‘halus’.
Contoh:
Kasiahano buruto nomoito ‘Bekas gigitan nyamuk gatal.’
Noforoghu oe karindi ‘Ia minum air dingin.’
Adjektiva makna rasa yang dialami oleh hidung, dalam bahasa Muna antara lain wondu ‘harum’, noburu ‘busuk’, rani ‘amis’, dan nobei ‘basi’.
Contoh:
Wonono bura dhawa nowondu ‘Bau bedak jawa harum.’
Kenta amaitu noburumo ‘Ikan itu sudah busuk.’
Adjektiva makna rasa yang dialami oleh mata, dalam bahasa Muna di antaranya nokesa ‘cantik/indah/bagus’, pasole ‘gagah’, ntalea ‘terang’, dan nororondo ‘gelap’.
Contoh:
Megholi kanau badhu mokesano.
‘Belikan saya baju yang bagus.’ 

DAFTAR PUSTAKA
Chaer, Abdul. 1990. Pengantar Semantik Bahasa Indonesia. Jakarta: Rineke Cipta.
Depdikbud. 1983. Pedoman Penulisan Tata Bahasa Indonesia. Jakarta: Djambatan.
Kridalaksana, Harimurti. 1983. Kamus Linguistik. Jakarta: PT Gramedia.
Tarigan, Hendri Guntur. 1993. Pengantar Semantik. Bandung: Pionir Jaya.