Tepat
pada tanggal 13 Oktober 2013 saya berangkat bersama teman-temanku (Tari,
Nuzran, Citra, dan Hesty) untuk pulang kampung. Kami berangkat dari rumah
menuju Torobulu mengendarai sebuah
mobil Avanza (milik omnya Tari) pukul 07.00 wita dan tiba di Torobulu jam 10.15
wita. Ternyata di sana sudah panjang antrian dan mobil yang kami tumpangi
mendapat nomor antrian 70. Kami semua mulai galisah karena antrian mobil 70
sudah pasti lama menunggu. Saya segera mengambil Hp dan menelpon kakakku yang
katanya akan pulang kampung juga pada hari yang sama. Ternyata betul, dia saat
itu sedang mengantri juga. Setelah fery ret kedua berangkat (pukul 11.00
wita) kakakku datang dan menyuruhku
membeli tiket agar saya ikut pulang kampung dengan dia. Saya segera diantar ke
tempat pembelian tiket dan ternyata harus antri lagi. Setelah saya mendapatkan
tiketnya, saya menuju ke teman-temanku dan minta ijin kalau saya harus ikut dan
pulang kampung bersama kakakku. Mereka mengijinkan. Fery ret ketiga sudah
sandar di pelabuhan Torobulu pukul 13.00. Semua sudah standby lagi di tempat
masing-masing. Dan lagi-lagi baik mobil teman-temanku maupun motor kakakku
tidak bisa masuk dalam kapal. Kami menunggu lagi fery selanjutnya. Begitu
seterusnya sampai menjelang malam.
Kami
pun segera tersadarkan dengan keadaan bahwa satu hari ini belum makan. Sembari
menunggu fery selanjutnya kami menyempatkan diri untuk makan dulu sambil
cerita-cerita dengan teman-teman. Ada yang sibuk telpon orangtua dan ada juga
yang orangtuanya selalu menelpon karena kekhawatirannya terhadap anaknya yang
dari pagi berangkat dan harus berlama-lama di Torobulu menunggu antrian.Hingga
fery ret kelima sandar di pelabuhan Torobulu belum bisa juga kami masuk.
Setelah lama kami menunggu, akhirnya
fery ret keenam tiba juga pada pukul 20.15. Kakakku segera menuju ke motornya
dan Alhamdulalliah kami bisa masuk, kecuali mobil teman-temanku tidak bisa
masuk karena yang diutamakan adalah yang pengendara motor dulu.
Setelah
beberapa jam perjalanan, akhirnya kapal fery yang kami tumpangi tiba juga di pelabuhan
Tampo. Perasaanku sangat legah, mungkin begitulah perasaan semua penumpang pada
malam itu. Setelah keluar dari kapal, kami segera melambung dalam kegelapan
bersama motor-motor yang lain.
(WA ODE MURNI ANA)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar